MENGENANG KEMBALI KERAJAAN AI RENUNG

Oleh Ahmad Zuhri

Sejumlah situs purbakala yang tersebar dibeberapa tempat di Kabupaten Sumbawa, kini kondisinya sangat memperihatinkan dan memerlukan perhatian semua pihak untuk tetap terpelihara. Sebut saja Situs Ai Renung yang merupakan situs pertama yang ditemukan di wilayah Kabupaten Sumbawa. Peneliti pertama situs ini adalah Dinullah Rayes seorang budayawan di Sumbawa Besar. Ketika itu Haji Dinollah Rayes masih menjabat Kabid Kebudayaan Depdikbud Kabupaten Sumbawa ( Diknas sekarang ) sekitar tahun 1971 bersama Drs. Made Purusa dari Balai Arkeologi Denpasar serta tenaga ahli dari pusat Arkeologi nasional yang melakukan penelitian pertama. Pada penelitian pertama hanya ditemukan tiga buah sarkofagus ( kuburan batu). Kemudian pada penelitian berikutnya ditemukan lagi tujuh buah sarkofagus.
 
Ai Renung ( Ai = Air ..Renung = Pohon Kapuk ), artinya air yang keluar dari akar pohon kapuk. Situs ini berlokasi dikawasan persawahan Ai-renung. Disekitar tempat ini dahulunya ada sebuah desa yang bernama Ai Renung tidak jauh dari Desa Batu Tering Kec.Moyo Hulu. Nini Kaki atau leluhur masarakat Desa Batu Tering sendiri berasal dari Ai Renung. Dahulu Desa Ai Renung ini merupakan sebuah Desa Besar dan pusat dari sebuah kerajaan kecil diwilayah Moyo Hulu. Disini dahulunya konon bertahta seorang raja yakni Datu Ai Renung. Sebagian masarakat Batu Tering menyebut desa ini sebagai desa loka’ ( desa tua ) bahkan ada yang menyebutnya “ Desa Talo “ atau desa yang ditinggal penghuninya pindah ke Desa Batu Tering sekarang.
 
Setelah dilakukan pemugaran pada tahun delapan puluhan, situs Ai Renung ini sebenarnya sudah dapat dijadikan obyek wisata budaya. Namun untuk menjangkaunya terlampau sulit karena akses menuju tempat ini hanya tersedia jalan setapak. Kendati demikian tidak jarang para mahasiswa dan peneliti asing datang ke Ai Renung, terlebih mahasiswa arkeologi.
 
Berjalan sekitar dua jam, sampailah kita ke sebuah lokasi dimana terdapat Sarcophagus atau kuburan batu yang oleh masarakat setempat menyebutnya dengan “ Batu Peti “. Kubur batu itu letaknya terpisah pada lima lokasi. Lokasi pertama terdapat dua sarkopag, yang satu unit bagian bawah dan penutupnya masih lengkap, yang satu unit lagi badannya sudah pecah dan penutupnya bergeser beberapa meter dari badannya.
 
Kondisi sarkopag yang tidak jauh berbeda (terpecah-pecah) terletak di timur laut dan utara dari lokasi pertama. Satu sarkopag yang berlokasi di lereng sebuah bukit, kemudian ada sarkopag ganda terdapat juga di lereng perbukitan tadi yang disebut Olat ( Gunung ) Sangka Bulan. Diperlukan waktu 15-20 menit mendaki lokasi sarkopag yang terakhir ini.
 
Rata-rata pada peti batu ini terpahat sejumlah ornamen seperti topeng, gambar biawak, manusia (perempuan) dalam posisi mengangkang dengan jenis kelaminnya menonjol, ada yang berdiri mengangkat dua tangan ke atas, ada pula dalam posisi tidur.
 
Motif hias pada batu wadah mayat di Ai Renung, umumnya ditemukan pada wadah sama di tempat lain seperti di Besuki, Sulawesi, Sumba, dan Bali. Mungkin pola hias itu menggambarkan alam pikiran manusia saat itu yang umumnya tersebar di Nusantara.
 
Gambar alat kelamin, misalnya, melambangkan kesuburan. Binatang melata (kadal, biawak) merupakan simbolisasi hubungan alam arwah. Satwa itu “ditugasi” menjaga arwah si mati agar tidak diganggu kekuatan jahat dalam perjalanan ke alam arwah.
 
Ada penelitian yang menyebutkan, kedua jenis binatang melata itu menduduki tempat penting dalam alam pikiran dan kepercayaan bangsa Indonesia dan Polinesia. Bahkan dianggap penjelmaan roh nenek moyang atau roh pemimpin suku guna melindungi keturunan dan sukunya. 
 
Wadah batu jasad manusia di Ai Renung juga dinyatakan satu-satunya temuan di Indonesia dan dunia, yang menunjukkan tingginya peradaban manusia.Itu mengarah ke Olat Sangka Bulan. Ini bisa jadi berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Prasejarah yang menganggap arwah berada di tempat yang tinggi.
 
Tidak jelas siapa yang dikuburkan didalam kuburan batu itu. Namun dari cerita masarakat setempat bahwa Ai Renung adalah bekas sebuah pusat kerajaan, maka sudah dipastikan kuburan batu itu adalah kuburan raja ( datu ai renung ) dan keluarganya. 
 
Itulah sebuah kerajaan kecil di wilayah Desa Batu Tering Kecamatan Moyo Hulu, bernama Ai Renung yang kini hanya menyisakan batu sebagai saksi bisu dari keberadaan nya. Peninggalan yang disebut sebagai situs ini, tidak lagi terpelihara dan terawat yang pada akhirnya  tidak seorang pun dari masarakat Sumbawa yang tau akan sejarahnya.
 
Sekarang siapa yang peduli ???

http://www.facebook.com/groups/pedulidesadarat/doc/268386009862160/

sapalah kami dengan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s