Tonton “Puisi Pilar-Pilar Nabawi” di YouTube

Dipublikasi di Puisi Pilar Pilar Nabawi | Tag | Meninggalkan komentar

​Permendikbud No 17 Tahun 2017 Tentang PPDB

Permendikbud No 17 Tahun 2017 Tentang PPDB

Yth. Bapak / Ibu

  1. Dinas Pendidikan Propinsi
  2. Dinas Pendidikan Kabupaten / Kota

  3. Kepala Sekolah SD , SMP , SLB , SMA dan SMK

di Seluruh Nusantara

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Menyongsong Tahun Pelajaran Baru 2017 / 2018 pada Bulan Juli 2017 mendatang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak – Kanak , Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan , Atau Bentuk Lain Yang Sederajat. Permendikbud ini bertujuan untuk memberikan acuan dan pedoman bagi Satuan Pendidikan dalam menyelenggarakan proses penerimaan siswa baru agar dilakukan secara objektif , akuntable , transparan , dan tanpa deskriminasi guna meningkatkan akses layanan pendidikan.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak – Kanak , Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan , Atau Bentuk Lain Yang Sederajat ini akan mengatur hal – hal sebagai berikut :

BAB I Ketentuan Umum

BAB II Tujuan

BAB III Tata Cara PPDB

BAB IV Perpindahan Peserta Didik

BAB V Rombongan Belajar

BAB VI Pelaporan dan Pengawasan

BAB VII Larangan

BAB VIII Sanksi

BAB IX Ketentuan Lain – lain

BAB X Ketentuan Peralihan

BAB XI Ketentuan Penutup

Demikian informasi yang kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasama Bapak / Ibu kami ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Link Unduhan:

Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 (PDF )

Sumber : Permendikbud No 17 Tahun 2017 Tentang PPDB: http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id/berita/permendikbud-no-17-tahun-2017-tentang-ppdb | http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id/files/PPDB.png

Dipublikasi di DOWNLOAD PANDUAN PPDB TAHUN 2017 | Tag | Meninggalkan komentar

Ketimpangan Persebaran Penduduk Merupakan Masalah Mendasar Pembangunan di NTB

Ketimpangan Persebaran Penduduk Merupakan Masalah Mendasar Pembangunan di NTB

By Badrul Munir

Ketimpangan pembangunan antarwilayah merupakan masalah umum terjadi. Tak perlu risih. Apalagi apologis. Tetapi jika disparitas terlalu terjal, tentu bukan lagi hal biasa, kemudian dibiarkan terjadi. Ia harus ditelusuri mengapa hal itu terjadi, kemudian mencari opsi dan solusi terbaik.

Dalam kasus NTB, pemicu utama ketimpangan adalah persebaran penduduk yang tidak merata. Coba lihat. Dari 5.398.573 jiwa populasi penduduk NTB pada 2015, sebanyak 70,37 persen mendiami pulau Lombok, dengan kepadatan rata-rata 687 jiwa per kilometer persegi. Hanya sejumlah 29,63 persen penduduk di pulau Sumbawa, dengan kepadatan rata-rata 88 jiwa per kilometer persegi.

Ketimpangan persebaran penduduk yang sangat ekstrem, pasti akan berimplikasi terhadap berbagai aspek pembangunan. Katakanlah berkaitan dengan penyediaan infrastruktur wilayah dan fasilitas pelayanan publik. Termasuk utilitas publik lainnya. Di satu sisi kita tahu bahwa setiap wilayah memiliki kapasitas daya dukung (carrying capacity).

Sebagai contoh sederhana. Jika suatu wilayah memiliki kapasitas daya dukung hunian 100 orang. Kemudian wilayah tersebut ditempati 120 orang. Apa yang akan terjadi? Biar pun kebutuhan fisik penduduk terpenuhi sesuai standar normal,  tetapi faktor kenyamanan (comfort)  tidak akan bisa terwujud. Belum lagi adanya dampak sosial bahkan kriminal, dan berbagai ketidaknyamanan yang timbul akibat over capacity. Kebutuhan fisik boleh jadi terpenuhi, tetapi kebutuhan sosial dan non fisik lainnya jelas terganggu.

Pemicu ketimpangan lain yang berpengaruh dominan adalah konektivitas wilayah. Terutama transportasi darat, laut, dan udara. Hasil coret-coretan spasial yang saya lakukan, ditemukan bahwa pada setiap 1 kilometer persegi luas wilayah di pulau Lombok, terdapat jalan sepanjang 0,66 kilometer. Bandingkan dengan di pulau Sumbawa, hanya terdapat jalan sepanjang 0,28 kilometer pada setiap 1 kilometer persegi luas wilayah. 

Ketimpangan semakin terbedah,  jika melihat rata-rata jumlah penduduk yang dilayani oleh setiap satuan kilometer jalan. Di pulau Lombok setiap 1.000 jiwa dilayani oleh 1,1 kilometer jalan.  Sementara di pulau Sumbawa setiap 1.000 jiwa  dilayani oleh 3,66 kilometer jalan. Terbukti, indeks aksesibilitas pulau Lombok dan Sumbawa, sangat terjal.

Jika dikaitkan dengan standar rata-rata ideal, yaitu 0,5 kilometer jalan per kilometer luas wilayah.  Baik aspek kerapatan penduduk maupun kerapatan jalan, juga sangat timpang. Panjang jalan di pulau Lombok sudah melampaui angka ideal. Namun panjang jalan yang melayani penduduk masih kurang, sehingga lalu lintas sangat padat. Sebaliknya panjang jalan di pulau Sumbawa sebesar 0,28 kilometer per kilometer persegi wilayah, masih sangat kecil. Jauh di bawah rata-rata ideal. Akan tetapi jumlah orang yang dilayani setiap kilometer jalan sangat kecil. 

Dari analisis ini menggambarkan bahwa aspek distribusi penduduk sangat memengaruhi perkembangan suatu wilayah. Belum lagi jika ditelisik lebih dalam tentang kualitas penduduk.

Jika dilakukan kajian lebih dalam, persoalan ketimpangan penduduk inilah yang menjadi persoalan mendasar pembangunan di NTB. Ia menyasar bidang-bidang lainnya.  Implikasinya pada pembangunan bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan hidup, sosial, politik dan keamanan. Dalam bahasa yang lebih lugas, muaranya pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Suka tidak suka, IPM provinsi NTB masih berada di deretan 32 dari 34 provinsi.

Dengan tetap memberi apresiasi kepada semua pemimpin NTB sebelumnya. Bagi pemimpin NTB ke depan, perlu pahami persoalan ini secara benar dan komprehensif. Ia harus mampu bekerja dengan gagasan-gagasan cerdas. Kreatif dan inovatif. Tak cukup dengan disposisi. Main telunjuk. Atau mengandalkan pihak-pihak lain. Ia mesti pahami anatomi persoalan daerah secara benar. Mampu mencari solusi taktis dan strategis. Itulah pemimpin yang kita harapkan. Ia menjadi simbol perlawanan bagi daerahnya. Baik di pentas nasional maupun global.

Jangan terjebak. Mendandani pulau Lombok dengan berbagai atribut infrastruktur wilayah, tanpa memahami kapasitas daya dukung dan karakteristik wilayahnya, adalah pekerjaan yang tidak solutif. Justru kontra produktif dengan prinsip-prinsip pembangunan people centered development. Demikian pula dengan pengembangan pulau Sumbawa. Dengan jumlah penduduk yang relatif kecil, butuh gagasan-gagasan inovatif dan progresif,  sesuai batas maksimal daya dukung wilayah yang dimiliki.

Memahami persoalan mendasar pembangunan daerah, berarti sebagian dari pekerjaan telah selesai. Saya berharap, teman-teman para cerdik-cendikia. Para intelektual publik, akan mampu memberi pemikiran terbaik untuk pecahkan persoalan kelambatan pembangunan daerah kita NTB tercinta. Semoga terjalin silaturrahim pemikiran di antara kita.●

Mataram, 20 Mei 2017. BM.

Dipublikasi di KUMPULAN ARTIKEL | Meninggalkan komentar

Kata Kerja Operasional (Baru) Taksonomi Bloom

Kata Kerja Operasional (Baru) Taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom merujuk kepada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali dirancang oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Menurut Bloom, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain dan setiap ranah atau domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.

Tujuan pendidikan dibagi ke dalam 3 domain, yaitu:
1. Kognitif, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2. Afektif, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3. Psikomotor, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro pun menggambarkan hal yang sama dalam ungkapan cipta, rasa, dan karsa. Atau ada juga yang menyebutnya dengan: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Taksonomi merupakan kriteria yang digunakan oleh Guru untuk mengevaluasi mutu dan efektivitas pembelajarannya. Dalam setiap aspek taksonomi terkandung kata kerja operasional yang menggambarkan bentuk perilaku yang ingin dicapai melalui suatu pembelajaran. Kata kerja operasional diperlukan oleh Guru saat menyusun silabus dan RPP.

Berikut ini adalah contoh kata kerja operasional dari masing-masing ranah.
Tabel kata operasional ini hasil dari In House Training Revisi Kurikulum.

Kata Kerja Operasional (Baru), Taksonomi Bloom untuk ranah Kognitif (Pengetahuan)
taksonomi bloom

taksonomi bloom2

Kata Kerja Operasional, Taksonomi Bloom untuk ranah Psikomotorik (Keterampilan)
Bloom-psikomotor

Kata Kerja Operasional, Taksonomi Bloom untuk ranah Afektif (Sikap)
Bloom-afektif

Dipublikasi di KUMPULAN ARTIKEL | Meninggalkan komentar

KERANGKA RPP KURTILAS TERBARU BERDASAR PERMENDIKBUD NO. 103 TAHUN 2014

Perubahan yang mendasar adalah dihilangkannya poin TUJUAN PEMBELAJARAN, sehingga komponen RPP yang asalnya dari A sampai H, kini hanya sampai G. Lebih lanjut juga ada perubahan tata letak komponen SUMBER DAN MEDIA yang ditukar posisi dengan komponen PENILAIAN, Bila yang terdahulu SUMBER DAN MEDIA terlebih dahulu, tapi kini PENILAIAN terlebih dahulu, dan yang terakhir baru Media/alat, Bahan, dan Sumber Belajar

Poin E, lampiran Permendikbud SBB :

E. Mekanisme

1. Perencanaan
Tahap pertama dalam pembelajaran yaitu perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

a. Hakikat RPP
RPP merupakan rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci mengacu pada silabus, buku teks pelajaran, dan buku panduan guru. RPP mencakup: (1) identitas sekolah/madrasah, mata pelajaran, dan kelas/semester; (2) alokasi waktu; (3) KI, KD, indikator pencapaian kompetensi; (4) materi pembelajaran; (5) kegiatan pembelajaran; (6) penilaian; dan (7) media/alat, bahan, dan sumber belajar.

Setiap guru di setiap satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP untuk kelas di mana guru tersebut mengajar (guru kelas) di SD/MI dan untuk guru mata pelajaran yang diampunya untuk guru SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Pengembangan RPP dilakukan sebelum awal semester atau awal tahun pelajaran dimulai, namun perlu diperbaharui sebelum pembelajaran dilaksanakan.
Pengembangan RPP dapat dilakukan oleh guru secara mandiri dan/atau berkelompok di sekolah/madrasah dikoordinasi, difasilitasi, dan disupervisi oleh kepala sekolah/madrasah.
Pengembangan RPP dapat juga dilakukan oleh guru secara berkelompok antarsekolah atau antarwilayah dikoordinasi, difasilitasi, dan disupervisi oleh dinas pendidikan atau kantor kementerian agama setempat.

b. Prinsip Penyusunan RPP

1) Setiap RPP harus secara utuh memuat kompetensi dasar sikap spiritual (KD dari KI-1), sosial (KD dari KI-2), pengetahuan (KD dari KI-3), dan keterampilan (KD dari KI-4).

2) Satu RPP dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih.

3) Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

4) Berpusat pada peserta didik

Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar, menggunakan pendekatan saintifik meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

5) Berbasis konteks
Proses pembelajaran yang menjadikan lingkungan sekitarnya sebagai sumber belajar.

6) Berorientasi kekinian
Pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan nilai-nilai kehidupan masa kini.

7) Mengembangkan kemandirian belajar
Pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk belajar secara mandiri.

8) Memberikan umpan balik dan tindak lanjut pembelajaran
RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.

9) Memiliki keterkaitan dan keterpaduan antarkompetensi dan/atau antarmuatan
RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara KI, KD, indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

10) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

c. Komponen dan Sistematika RPP
Komponen-komponen RPP secara operasional diwujudkan dalam bentuk format berikut ini :

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah                 :
Mata pelajaran    :
Kelas/Semester    :
Alokasi Waktu    :

A. Kompetensi Inti (KI)

B. Kompetensi Dasar

   1. KD pada KI-1
   2. KD pada KI-2
   3. KD pada KI-3
   4. KD pada KI-4

C. Indikator Pencapaian Kompetensi*)

   1. Indikator KD pada KI-1
   2. Indikator KD pada KI-2
   3. Indikator KD pada KI-3
   4. Indikator KD pada KI-4

D. Materi Pembelajaran

(dapat berasal dari buku teks pelajaran dan buku panduan guru, sumber belajar lain berupa muatan lokal, materi kekinian, konteks pembelajaran dari lingkungan sekitar yang dikelompokkan menjadi materi untuk pembelajaran reguler, pengayaan, dan remedial)

E. Kegiatan Pembelajaran

1. Pertemuan Pertama: (…JP)
     a. Kegiatan Pendahuluan
     b. Kegiatan Inti **)
       • Mengamati
       • Menanya
       • Mengumpulkan informasi/
           mencoba
       • Menalar/mengasosiasi
       • Mengomunikasikan
    c. Kegiatan Penutup

2. Pertemuan Kedua: (…JP)
    a. Kegiatan Pendahuluan
    b. Kegiatan Inti **)
       • Mengamati
       • Menanya
       • Mengumpulkan informasi/
           mencoba
       • Menalar/mengasosiasi
       • Mengomunikasikan
    c. Kegiatan Penutup

3. Pertemuan seterusnya.

F. Penilaian, Pembelajaran Remedial dan Pengayaan

1. Teknik penilaian
2. Instrumen penilaian
    a. Pertemuan Pertama
    b. Pertemuan Kedua
    c. Pertemuan seterusnya

3. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan

Pembelajaran remedial dilakukan segera setelah kegiatan penilaian.

G. Media/alat, Bahan, dan Sumber Belajar

1. Media/alat
2. Bahan
3. Sumber Belajar
——————————————–
*) Pada setiap KD dikembangkan indikator atau penanda. Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-1 dan KI-2 dirumuskan dalam bentuk perilaku umum yang bermuatan nilai dan sikap yang gejalanya dapat diamati sebagai dampak pengiring dari KD pada KI-3 dan KI-4. Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-3 dan KI-4 dirumuskan dalam bentuk perilaku spesifik yang dapat diamati dan terukur.

**) Pada kegiatan inti, kelima pengalaman belajar tidak harus muncul seluruhnya dalam satu pertemuan tetapi dapat dilanjutkan pada pertemuan berikutnya, tergantung cakupan muatan pembelajaran. Setiap langkah pembelajaran dapat digunakan berbagai metode dan teknik pembelajaran.
==========================================================
==========================================================

Itulah Keranga RPP yang digunakan untuk menyusun RPP Pada Pembelajaran KURTILAS menurut Permendikbud Nomor 103 tahun 2014, untuk penjelasan lebih lanjut, silakan telaah sendiri Permendikbud tersebut yang BISA ANDA DOWNLOAD DARI SINI

Dipublikasi di KERANGKA RPP KURTILAS TERBARU BERDASAR PERMENDIKBUD NO. 103 TAHUN 2014 | Tag | Meninggalkan komentar

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DAN PROSES PENILAIANNYA

Bioners. (12/5/2014)  Salah satu model pembelajaran yang di rekomendasikan oleh Implementasi Kurikulum 2013 adalah Model Pembelajaran Berbasis Proyek. Alasan utamanya adalah model pembelajaran ini terkait erat dengan pendekatan Saintifik sebagai pendekatan Populer bagi Kurikulum 2013. Model Pembelajaran Berbasis Proyek atau yang biasa juga dikenal dengan istilah Project Based Learning (PjBL) dinilai berpotensi untuk mengembangkanberbagai jenis potensi pada diri peserta didik yang sesuai dengan yang sasaran pengembangan Kurikulum 2013 diantaranya Potensi keilmuan peserta didik sebagai dampak dari meningkatnya motivasi belajar peserta didik, mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, meningkatkan keaktifan dan kemampuan kolaborasi,  meningkatkan keterampilan komunikasi, dan mengembangkan kemampuan peserta didik mengelola proses belajarnya. Sehingga secara tersirat, 3 aspek pengembangan diri peserta didik meliputi ranah kognitif, psikomotik dan afektif terpacu mengalami pengembangan.

Defenisi Project Based Learning/PjBL adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.

Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya.

image

Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.

Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK

(1) Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start with the Essential Question)

Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.

(2) Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)

Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan  emikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta  mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.

(3) Menyusun Jadwal (Create a Schedule)

Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.

(4) Memonitor Peserta Didik dan Kemajuan Proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)

Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang  penting.

(5) Menguji Hasil (Assess the Outcome)

Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

(6) Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)

Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek

1. peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja;
2. adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik;
3. peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan;
4. peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan;
5. proses evaluasi dijalankan secara kontinyu;
6. peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan;
7. produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan
8. situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.

Hambatan Pembelajaran Berbasis Proyek

1. Pembelajaran Berbasis Proyek memerlukan banyak waktu yang harus disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek.
2. Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan, karena menambah biaya untuk memasuki system baru.
3. Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional, dimana instruktur memegang peran utama di kelas. Ini merupakan suatu transisi yang sulit, terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi.
4. Banyaknya peralatan yang harus disediakan, sehingga kebutuhan listrik bertambah. Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses pembelajaran, dan akan lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak monoton, beberapa contoh perubahan lay-out ruang kelas, seperti: traditional class (teori), discussion group (pembuatan konsep dan pembagian tugas kelompok), lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri), circle (presentasi). Atau buatlah suasana belajar menyenangkan, bahkan saat diskusi dapat dilakukan di taman, artinya belajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas.

Kelebihan Pembelajaran Berbasis Proyek

1. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu untuk dihargai.
2. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
3. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.
4. Meningkatkan kolaborasi.
5. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi.
6. Meningkatkan keterampilan peserta didikdalam mengelola sumber.
7. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
8.Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata.
Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata.
Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.

Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek

1. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
2. Membutuhkan biaya yang cukup banyak.
3. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana instruktur memegang peran utama di kelas.
4. Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
5. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
6. Ada kemungkinanpeserta didikyang kurang aktif dalam kerja kelompok.
7. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan

Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di atas seorang pendidik harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah, membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan proyek, meminimalis dan menyediakan peralatan yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar, memilih lokasi penelitian yang mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya, menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga instruktur dan peserta didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran Berbasis Proyek ini juga menuntut siswa untuk mengembangkan keterampilan seperti kolaborasi dan refleksi. Menurut studi penelitian, Pembelajaran Berbasis Proyek membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka, sering menyebabkan absensi berkurang dan lebih sedikit masalah disiplin di kelas. Siswa juga menjadi lebih percaya diri berbicara dengan kelompok orang, termasuk orang dewasa.

Pembelajaran Berbasis Proyek juga meningkatkan antusiasme untuk belajar. Ketika anak-anak bersemangat dan antusias tentang apa yang mereka pelajari, mereka sering mendapatkan lebih banyak terlibat dalam subjek dan kemudian memperluas minat mereka untuk mata pelajaran lainnya. Antusias peserta didik cenderung untuk mempertahankan apa yang mereka pelajari, bukan melupakannya secepat mereka telah lulus tes.

PENILAIAN PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK

Penilaian pembelajaran dengan metoda Pembelajaran Berbasis Proyek harus dilakukan secara menyeluruh terhadap sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis proyek. Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek dapat menggunakan teknik penilaian yang dikembangkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu penilaian proyek atau penilaian produk. Penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek: Penilaian Proyek

Pengertian Penilaian Proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas

Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu:

1. Kemampuan pengelolaan. Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
2. Relevansi. Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.
3. Keaslian. Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.

Teknik Penilaian Proyek
Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir proyek. Untuk itu, guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan disain, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/ instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian.

Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek: Penilaian Produk

Pengertian Penilaian Produk
Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu:

1. Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.
2. Tahap pembuatan produk (proses), meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
3. Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan.

Teknik Penilaian Produk

Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan pada tahap appraisal.
Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan.

Sumber:

Panduan Kurikulum 2013 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

http://pembelajaranku.com

Dipublikasi di MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DAN PROSES PENILAIANNYA | Tag | Meninggalkan komentar

Teknik-Teknik Penilaian

Untuk mengetahui kompetensi siswa, guru dapat melakukan penilaian dengan beberapa teknik. Teknik-teknik penilaian yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. penilaian kinerja,
2. penilaian sikap,
3. penilaian tertulis,
4. penilaian proyek,
5. penilaian produk,
6. penggunaan portofolio, dan
7. penilaian diri.

Penerapan dari teknik-teknik penilaian tersebut diuraikan di bawah ini.

1. Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kinerja siswa. Penilaian

kinerja dilakukan melalui pengamatan. Kinerja yang dapat diamati seperti: bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/deklamasi, menggunakan peralatan laboratorium, mengoperasikan suatu alat, dan lain-lain. Alat pengamatan yang digunakan dapat berupa Daftar Cek atau Skala Rentang.

2. Penilaian Sikap

Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: komponen afektif (perasaan), komponen kognitif (keyakinan), dan komponen konatif (kecenderungan berbuat) . Objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran berbagai mata pelajaran adalah:

Sikap terhadap subjek
Sikap positif terhadap belajar
Sikap positif terhadap diri
Sikap terhadap seseorang yang berbeda
Teknik penilaian sikap dapat berupa: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta.
3.    Penilaian Tertulis
Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Dalam menjawab soal siswa tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain, seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya.

Dalam mengembangkan instrumen penilaian ini, guru perlu mencermati kesesuian antara soal (materi) dengan indikator pada kurikulum. Selain itu, rumusan soal atau pertanyaan (konstruksi) harus jelas dan tegas. Rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat (bahasa) yang menimbulkan penafsiran ganda

4.    Penilaian Proyek
Penilaian proyek adalah penilaian terhadap suatu tugas (suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data) yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui pemahaman dan pengetahuan dalam bidang tertentu, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam penyelidikan tertentu, dan kemampuan siswa dalam menginformasikan subyek tertentu secara jelas

Penilaian cara ini dapat dilakukan terhadap perencanaan, proses selama pengerjaan tugas, dan hasil akhir proyek. Dalam penilaian ini guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan disain, pengumpulan data, analisis data, kemudian menyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitiannya juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian ini dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek (checklist) ataupun skala rentang (rating scale)

5.    Penilaian Produk
Penilaian produk meliputi penilaian terhadap kemampuan siswa membuat produk produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung,lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam. Pada umumnya pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan dalam setiap tahapan perlu diadakan penilaian.

Penilaian Tahap persiapan, meliputi: menilai kemampuan siswa merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk; Penilaian Tahap pembuatan (produk), meliputi: menilai kemampuan siswa menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik. Penilaian Tahap penilaian (appraisal), meliputi: menilai kemampuan siswa membuat produk sesuai kegunaannya dan memenuhi kriteria keindahan.

6.    Penilaian Portofolio

Penilaian Portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dalam satu periode tertentu. Portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar siswa melalui karya siswa, antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi, musik, penelitian, dan lain-lain.

Dalam mengembangkan penilaian portofolio, guru perlu melakukan hal-hal berikut.

Menjelaskan maksud penggunaan portofolio.
Menentukan bersama siswa sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat.
Mengumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap siswa dalam satu map/folder/wadah.
Memberi tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan siswa sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu
Menentukan kriteria penilaian sampel-sampel portofolio siswa beserta pembobotannya bersama para siswa agar dicapai kesepakatan
Meminta siswa menilai karyanya secara berkesinambungan
Setelah suatu karya dinilai dan ternyata nilainya belum memuaskan, memberi kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki lagi
Bila perlu, menjadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio.

7.    Penilaian Diri
Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian, yang berkaitan dengan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam menerapkan penilaian diri ini, guru perlu melakukan hal-hal berikut.

*Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai
*Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan
*Merumuskan format penilaian, dapat berupa pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau skala rentang
*Meminta siswa untuk melakukan penilaian diri
*Mendorong siswa supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif

Dipublikasi di Tehnik - Tehnik Penilaian | Meninggalkan komentar