MENGENAL DATU POLAS, ULAMA PENYEBAR ISLAM DITANA SAMAWA

Oleh : Ihin Utan

Penuturan saya kali ini adalah masih tentang keberadaan makam para ulama penyebar islam yang mempunyai peran besar dalam sejarah tana samawa tapi sayang sekali makam tersebut yang sejatinya sebagai bukti sejarah yang akan berbicara kepada anak cucu kita kelak tidak terurus dan diabaikan. Hemm santai aja bro,minum kopinya dulu supaya asiiikk heheee. . . .

Ditahun 1991 saya mencari informasi meski dari data tutur tentang FAQIH ISMAIL dan SYARIEF MAULANA ALI yang makamnya terletak di Desa motong kec.utan (samping kantor desa motong). Data tutur yang saya dapat dari seorang tokoh bernama Dea Guru Arahim Dea Patorang (saat ini sudah alamarhum).

Dua ulama ini punya peranan besar Pada masa pemerintahan Dewa Mas Madinah (1702-1723) sultan ini melakukan perubahan besar besaran dengan membentuk majlis islam dan sekaligus diterapkannya semboyan ADAT BERSENDI SYARA’ , SYARA’ BERSENDI KITABULLAH di Sumbawa tidak terlepas dari peran 2 (dua) orang ulama ini yang merupakan utusan Sultan Banten, Tentang hal ini terdapat dalam penjelasan Buku Lalu Manca, yaitu :

”…………………………………. Lalu mufakat Hukum Syara’ dengan Adat karena tiada tertanggung oleh hukum yang empat itu pada segala rakyatnya itulah zaman Tuan Syarief Maulana Ali datang dari Banten dengan Tuan Faqieh Ismail itulah maka bersendikan Hukum Kitab dan Hukum Adat. Masa itulah dihilangkan Fitnah Kadarsa bunga emas dan perak ganda berganda karena tiada berlaku pada Rasulullah”. Maka oleh Tanah Sumbawa, jikalau tiada tertanggung oleh Adat lalu bercermin pada Hadiest atau dalil salah satu yang keras serta didirikan zaman sumpah kepada yang memegangkan adat yang setelah sudah mansuh itu, maka yaitullah yang kena la’nat Allah karena sudah mufakat berjanji berteguh-teguhan”.

Menurut Dea Patorang, dua ulama ini mempunyai keilmuan yang berbeda. Syarif maulana ali ini sangat ahli dalam bidang ekonomi dan perdagangan dan beliau mengajarkan masyarakat sekitar sehingga mungkin ini kebetulan atau tidak tempat makam kedua ulama ini dinamakan KARANG AMAT (kampung pasar) semua warga kampung ini rata-rata pedagang ulung. Sementara FAQIH ISMAIL sangat ahli dalam bidang pertanian.sehingga beliau dijuluki DATU POLAS karena beliaulah yang pertama kali mengajarkan cara membuat polas (tali dari bambu) dan kadang juga beliau dijuluki DATU PUTI GETI (datu berdarah putih) karena ketika sedang membuat polas tangannya terluka dan mengeluarkan darah putih.
Kemudian faqih ismaillah yang mengajarkan cara bertani dan mengelolah sawah dengan baik. Beliau berhasil mengajak masyarakat mencetak lahan persawahan yang disebut dengan ORONG. Kemudian beliaulah yang mengajarkan masyarakat membuat REBAN (tanggul bendungan), membuat LAPAN (saluran irigasi) sehingga sampai hari ini di utan masih bisa kita lihat LAPAN REA, LAPAN TAMAK, ORONG DUMPU, ORONG SETUKAL, UMA PUNGKA dll itulah dedikasi FAQIH ISMAIL atau DATU POLAS yang diajarkan kepada masyarakat Utan Kedali saat itu.

Penuturan Dea Guru patorang ini diperkuat dengan tulisan dalam sebuah buk yang dikutip oleh Lalu Manca dalam bukunya yang berbunyi :

HAADZA KALAAMULQAATI’

“Yang termaktub didalamnya akan meneguh dan menguati dalam buk ini adat dipusakai dari pada raja-raja terdahulu dan segala menteri-menteri yang dahulu dimufakati dengan syara’ pada zaman syekh kita Faqieh Ismail. Maka adalah semua orang Sumbawa menerima dia.
Bermula apabila raja itu sudah dinaikkan oleh Tanah Sumbawa atas tahta kerajaan, maka tak dapat tiada dikerjakan dengan sungguh-sungguh di himpun segala rakyatnya. Tiga perkara :
Pertama. Membaikkan kuta benteng negerinya, karena adalah keliling kuta negeri itu, itulah dikatakan rumah raja maka sebab dibaiki kuta bentengnya itu. Itulah dinding rumahnya supaya jangan boleh masuk orang mencuri.
Kedua. Sudah itu maka ditempelkan sungai dan dikerjakan lapan supaya jangan rusak kelaparan segala rakyatnya.
Ketiga. Dibaiki mesjid supaya kuat dan teguh agama Islam. Serta diwarakan orang sembahyang lima waktu dan mengerasi mendirikan mesjid tempat orang berbuat baik dan melarangkan orang berbuat jahat. Serta di bunuh orang yang menyembah berhala jika tidak mau tobat. Dan jikalau tiada dikerjakan dan dikuati raja itu sekalian yang tersebut itu niscaya celaka raja itu kepada Allah dan Rasulullah serta tiada selamat kerjanya.
Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah. Tolongkan kiranya Raja kami dan Tuan kami yang telah Kau gantikan diri-Mu menghukum hamba-Mu dalam dunia ini seperti yang telah Kau tolongkan akan Nabi-Mu supaya jangan kena tempelak pada Hari Qiamat dan jangan jadi tulang api neraka. Wallahu’alam. Tammatul kalaam mushshiddieq. ”

Dan makam kedua ulama ini masih ada sekarang walaupun sudah tidak terurus padahal mereka sangat besar dedikasinya terhadap peletakan pondasi dasar agama islam dikerajaan Sumbawa.
Ini gambarnya bos. . . .

sapalah kami dengan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s