Revolusi Kebudayaan: Mensiasati Globalisasi Dalam Perpektif Pembangunan Budaya Lokal

FAHRI HAMZAH

FAHRI HAMZAH

Revolusi Kebudayaan: Mensiasati Globalisasi Dalam Perpektif Pembangunan Budaya Lokal

Oleh: Fahri Hamzah, SE

Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Kesejahteraan Rakyat

 

“Every civilization sees itself as the center of the world and writes its history as the centre of the drama of the human history
Samuel P. Huntington, The Clash of Civilizations and Remaking of The World Order-

 Pendahuluan

Setiap peradaban memandang dirinya sebagai pusat dunia dan menuliskan sejarahnya adalah pusat drama sejarah manusia. Begitulah kata Huntington. Identitas budaya dan agama yang menjadi satu kesatuan dalam membentuk peradaban akan menjadi sumber konflik utama di dunia pasca perang dingin. Teori ini dikemukakan oleh seorang profesor ilmu politik Amerika, Samuel Huntington. Selain menjelaskan fenomena dunia modern pasca perang dingin, teori ini sekaligus mementahkan prediksi Francis Fukuyama yang dengan begitu optimisnya meramalkan tentang kemenangan kapitalisme dan  liberalisme sebagai ideologi tunggal dunia di masa depan.

Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History and The Last Menmenyimpulkan bahwa berakhirnya perang dingin menandai kemenangan Liberalisme (atas komunisme) sebagai ideologi terakhir dari sejarah kehidupan manusia. Samuel Huntington kemudian muncul dengan bukunya dengan judul The Clash of Civilization sebagai bentuk penolakan terhadap argumen Fukuyama. Bagi Huntington, liberalisme bukanlah ideologi akhir kehidupan manusia, ia kemudian mengaitkan masalah tersebut menggunakan teori dialektika sejarah Hegel yang menyatakan bahwa liberalisme hanyalah sebuah tesis dari sebuah sintesis dan akan melahirkan anti tesis baru setelah liberalisme.

Pasca perang dingin, akan muncul konflik baru.  Jika sebelumnya konflik yang terjadi adalah berlatar ideologi ekonomi dan politik maka berbeda dengan kondisi sekarang karena konflik tidak lagi bersumber dari elemen tersebut akan, tetapi konflik peradaban (clash of civilization). Peradaban tidak hanya mengenai identitas agama dan kebudayaan, akan tetapi melibatkan elemen yang lebih luas baik itu ekonomi, politik, agama dan budaya yang menjadi satu kesatuan. Bagi Huntington, Barat dalam hal ini liberalisme, tidak lagi menjadi kekuatan utama karena telah muncul kekuatan baru (antitesis) yang menandingi peradaban Barat yakni peradaban Islam dan peradaban Asia.

Islam sebagai sebuah agama tumbuh dengan pesat seiring dengan pertumbuhan manusia di dunia. Pengaruh pertumbuhan ini akan memberi dampak pada warna dunia yang lebih beragam secara budaya. Islam bukan hanya tumbuh secara kuantitas, melainkan terus berkembang dan merasuk dalam sendi-sendi kehidupan politik, ekonomi dan sosial. Islam hari ini tengah menjadi kekuatan yang mempengaruhi gerak laju umat manusia. Islam akan mengulagi dan melanjutkan catatan sejarahnya sebagai peradaban besar yang akan memberi pengaruh dan warna pada dunia.

Islam dan negara menemui relevansinya di jantung Eropa, Turki sebagai pionirnya. Bangkitnya Islam politik, begitu barat menyebutnya, telah terjadi di negara itu. Islam telah masuk dan merambah dunia politik dan berhasil mencapai pucuk kekuasaan. Di Bawah Pemerintahan Recep Tayyib Erdogan, Turki mulai menunjukkan jati dirinya sebagai bangsa yang gagah dihadapan bangsa lain. Eropa pun, mulai bergejolak, dinamika semakin panas menyusul arab spring dalam satu dekade terakhir.

Secara kultural, pemeluk Islam di benua Eropa tumbuh dengan begitu pesat. Dominasi peradaban eropa pun mulai mendapat reserve dari masyarakatnya. Modernisasi yang tampak begitu kering secara personal dan emosional tampaknya menjadi titik balik bagi perkembangan Islam di penjuru eropa. Selain, karena dampak sistemik dari Islam politik tentunya. Babak baru Benturan kebudayaan seperti yang di ramalkan Huntington tampaknya sudah dimulai. Kebangkitan peradaban Islam yang dimulai dengan Fanomena ini bukan hanya ada dalam pikiran Huntington, tetapi ada dalam catatan sejarah nyata dan sedang terjadi.

Peradaban Asia muncul sebagai kekuatan baru dunia terlihat dari banyaknya negara-negara Asia yang memiliki kapasitas dan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi dan menguasai pangsa pasar dunia seperti China, Jepang dan India.

Walaupun kecenderungannya sedang menurun, saat ini China masih merupakan negara dengan pertumbuhan tertinggi di dunia. Bahkan, majalah Forbes telah merilis analisa tentang kapasitas ekonomi China yang akan melampau Amerika pada tahun 2018. China saat ini bukanlah China dengan faham komunismenya. Tetapi China saat ini adalah China yang secara ekonomi sudah meninggalkan nilai sosialismenya semenjak Deng Xiaoping berkuasa, tahun 1977.

Dibawah panji reformasi ekonomi Deng Xiaoping, pada tahun 2001 akhirnya terdaftar dalam forum World Trade Organization (WTO). Artinya, ekonomi tirai bambu resmi ditinggalkan dan tunduk pada aturan dan kaidah ekonomi dunia. Jadi bangkitnya ekonomi China bukanlah simbol bangkitnya ideologi komunisme. China, dipandang secara historis adalah sebuah peradaban besar dengan segala warisan budaya leluhurnya. Begitu pula dengan India dan Indonesia, yang memiliki latar belakang peradaban yang tidak kalah dengan China akan menjadi determinan utama dinamika dan konflik global.

Budaya Indonesia Dalam Pusaran Globalisasi

Di tengah dinamika global yang terjadi dan telah diramalkan secara baik oleh Huntington tersebut, dimanakan posisi Indonesia? Pertanyaan ini sangat penting karena Indonesia, dalam kajian peradaban dunia, masuk menjadi determinan utama yang mewarnai peradabannya. Dari sisi kapasitas ekonomi, Indonesia terus tumbuh. Jika dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi, nilai pertumbuhannya rata-rata masih di atas 5 % pertahun. Potensi sumber daya alam dan bahan baku industri masih sangat melimpah. Pertumbuhan penduduk juga masih tinggi. Selain posisi geostrategis yang sangat menonjol, posisi ekonomis tersebut menjadikan Indonesia magnet yang menarik bagi dunia. Indonesia menjadi sasaran pasar dunia adalah keniscayaan. Rantai ekonomi dunia akan mengikat Indonesia dalam konteks pergaulan ekonomi global.

Kemajuan teknologi, informasi dan transportasi membuat dunia bergerak secara dinamis dan cepat. Dalam bahasa Friedman, dunia mulai mendatar (the world is flat). Arus modal mengalir antara negara dengan begitu masif, cepat dan tampak nihil hambatan. Kantor bursa saham menjadi tempat yang paling sibuk di dunia. Ekonomi dunia dan Indonesia seperti jalinan tali-temali yang tidak berdiri sendiri, saling mempengaruhi.

Selain modal, mobilitas manusia juga mengalamin perkembangan pesat. Kemajuan teknologi menjadi katalisator bagi cepatnya perkembangan bisnis transportasi antar negara bahkan benua. Bisnis transportasi tidak hanya mengalami perberkembangan yang sangat cepat tetapi juga menyajikan biaya yang semakin murah dan inklusif. Dengan motif ekonomi yang berbeda-beda, manusia mudah berpindah dari satu tempat ke tampat lain di dunia. Dalam konstek ekonomi Indonesia, fenomena ini sudah sangat terasa. Angka pertumbuhan wisatawan baik domestik maupun asing mengalami perkembangan yang begitu pesat. Data Kementerian pariwisata mencatat angka pertumbuhan wisatawan asing per tahun mencapai 20%. Jumlah warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri pun mengalami peningkatan setiap tahunnya. Singkatnya, mobilitas keluar dan masuk manusia antar negara semakin meningkat.

Selanjutnya, kita semakin akrab dengan kata “globalisasi” yang menggambarkan dunia tanpa Batas (borderless world).Globalisasi dalam arti di atas menurut Stiglitz adalah keniscayaan, kita tidak dapat mengelak dan menolaknya. Negara, demi kepentingan rakyatnya, harus membangun strategi dan kebijakan ekonomi politik yang memberikan dampak kesejahteraan.

Globalisasi ibarat pisau bermata dua, menyajikan manfaat juga kerusakan bagi umat manusia. Globalisasi yang dimaknai oleh peradaban barat yang kapitalistik menyimpan banyak masalah sosial. Menurut Stiglitz, globalisasi yang berjalan dalam dekade belakangan ini bertanggungjawab atas permasalahan global seperti ketimpangan, kemiskinan, kerusakan lingkungan, kerusakan tatanan sosial dan budaya masyarakat serta kearifan lokal.

Mobilitas modal dan manusia secara langsung membawa implikasi pada mobilitas nilai dan budaya secara global. Intrusi budaya dan gaya hidup, baik dalam bentuk nilai-nilai, perilaku hingga hobi dari negara adidaya seperti Amerika semakin sulit dibendung. Hingga pada akhirnya globalisasi adalah nama lain dari dominasi budaya amerika. Pada era 1990-an dominasi amerika dalam menyebarkan nilai dan budayanya terjadi secara masif. Bahkan Thomas Friedman mengatakan “culturally speaking, globalization has tended to involve the spread (for better or worse) of Americanization”. Budaya “mengikuti trend”, ikut-ikutan dan membebek telah menjangkiti pemuda yang merupakan pilar sebuah bangsa.

Infiltrasi budaya yang menggerus nilai dan kepribadian anak bangsa ini terjadi berlangsung begitu cepat dan seperti tak disadari. Gejala ini terekam oleh Huntington yang mencoba mengingatkan bahaya globalisasi. Menurutnya, dunia yang semakin mengglobal selain menggerus nilai budaya, kemasyarakatan juga menghilangkan kesadaran akan etnisnya (asal muasal) sendiri.Globalisasi yang didomplengi kapitalisme secara nyata telah menyerang aspek vital manusia, yaitu kesadaran. Kesadaran akan jati diri dan kearifannya. Primordialisme dalam arti yang konstruktif pun perlahan menghilang karena dihantam oleh budaya asing.

Jika ditinjau dalam konteks mode ekonomi bekerja, infiltrasi budaya global terjadi melalui dua sisi, yaitu sisi produksi dan sisi konsumsi. Jika berbicara tentang produksi maka subjeknya adalah pelaku ekonomi produktif apapun jenis profesinya. Kita ambil studi kasus sektor pertanian. Mobilitas modal yang begitu dasyat turut menyasar sektor pertanian. Pemerintah selaku pengambil kebijakan seperti takluk dibawah kendali pemodal. Sektor pertanian yang menurut jati dirinya bangsa merupakan agriculture dihadapkan pada pendekatan korporat sehingga muncul konsep dan praktek agroindustri. Dalam mode produksi, pertanian yang oleh bangsa Indonesia sudah turun menurun menjadi budaya dikooptasi oleh munculnya agroindustri. Petani dicabut dari akar budanyanya sehingga muncullah term baru yaitu buruh tani.

Bertani bagi masyarakat Indonesia adalah budaya, sehingga pada perkembangannya muncul inovasi-inovasi yang berbasis kearifan lokal. Cara dan sistem bercocok tanam sampai teknik pertanian sudah menjadi satu kesatuan budaya, yaitu agrikultur (agriculture). Budaya adalah senjata bertahan hidup, mencabut budaya dari masyarakat tani sama halnya dengan mencabut senjata bertahan hidup petani. Pembangunan sektor pertanian dengan konsep agroindustri (agroindustry/agrobusiness) oleh pemilik modal akan menggeser penguasaan lahan dari petani kepada pengusaha. Petani, yang pada awalnya adalah pemilik lahan lambat laun bergeser menjadi buruh tani di sektor tersebut. Jika harga produk pertanian meningkat maka petani tak kuasa mengendalikan harga karena upah buruh akan tetap rendah. Pendapatan petani tak cukup untuk memenuhi kebutuhan, bahkan kebutuhan untuk makan.  Di sinilah awal mula rapuhnya pertahan hidup petani. Karena petani telah dicabut jatidirinya. Dalam konteks ketahanan pangan, tentu kebijakan korporatisasi sektor pertanian kontra produktif terhadap ketahanan pangan nasional.

Kapitalisme yang mendompleng arus globalisasi menginfiltrasi budaya lokal melalui mode konsumsi. Modernisasi dan perkembangan teknologi mendorong pergeseran pola konsumsi masyarakat. Kebutuhan-kebutuhan imaginer muncul seiring masifnya arus kapital dalam bentuk iklan-iklan yang tersebar di setiap lini media masa. Masyarakat konsumen tidak lagi melihat nilai kebutuhan dalam menentukan preferensi terhadap suatu barang melainkan nilai simbolik, yaitu sebuah nilai yang tercipta melalui imaginasi iklan-iklan. Gensi, trendy, selfis, bahkan serakah, adalah nilai turunan yang ada dibalik nilai simbolik tersebut. Pada akhirnya terbentuklah budaya konsumerisme yang menggilas nilai-nilai dan jatidiri manusia.

Jalan Damai Revolusi Kebudayaan

Sekali lagi, globalisasi dalam pengertian modernisasi dan perkembangan teknologi yang menghilangkan batas-batas teritorial adalah hal yang niscaya, tidak bisa kita tolak. Jalan yang terbaik baik adalah mensiasati globalisasi agar keberpihakan pada kepentingan nasional menjadi lebih utama, sehingga kesejahteraan rakyat tercapai. “ The way globalization has been managed.. need to be radically rethought..”, demikian saran Stiglitz dalam merespon kekecewaannya terhadap globalisasi yang berkembang belakangan ini.

Bangsa Indonesia harus menyadari dan memahami posisinya dalam era globalisasi ini. kita tidak boleh hilang kesadaran, dan larut dalam arus global yang semakin brutal. Dibutuhkan pemikiran yang radikal untuk bisa bertahan sebagai bangsa yang mandiri dan berwibawa di mata dunia. Dalam konteks budaya, dibutuhkan sebuah revolusi budaya yang berangkat pada kesadaran individu manusia. Menghidupkan kembali kesadaran akan jati diri dan budaya bangsa yang selama ini redup, bahkan sudah lama redup sebagai dampak kolonialisme era klasik.

Jalan revolusi budaya ini, tentu bukan revolusi fisik atau mengacu pada revolusi kebudayaan China pada masa Mao Zedong. Revolusi budaya dalam konteks ini dibangun melalui inseminasi pemikiran mendasar tentang jati diri dan budaya bangsa. Dimana Indonesia memiliki keragaman budaya yang harus direvitalisasi kembali menjadi bagian utuh dari pembangunan, baik secara materil maupun immateril. Penciptaan basis-basis kesadaran sebagai manusia Indonesia yang beragam budaya hanya bisa jika dimulai dari lingkup terkecil, yaitu individu manusia sebagai subyek atau pelaku (bukan sebagai objek). Kemudian terciptalah komunitas-komunitas kesadaran baru tentang manusia Indonesia yang utuh. Komunitas akan menjalar membentuk satu kesatuan kesadaran kelompok atau regional dan akhirnya merambah lingkup nasional.

Di Era desentralisasi ini, gagasan dan langkah tersebut bukanlah utopia walaupun akan menempuh jalan yang panjang. Revolusi budaya, yang membentuk kesadaran masif, bukan tidak mungkin akan memberikan pengaruh dan warna pada level pengambil kebijakan publik, khususnya di tingkat lokal. Sehingga revolusi budaya menjadi jalan damai dalam mensiasati globalisasi yang semakin brutal ini.

Pra Nalar

Badrul Munir. 2017. Perlawanan Budaya. Mataram: Regional Isntitute 104
Francis Wahono dkk. 2012. Ekonomi Politik Pangan. Yogyakarta: Bina desa dan Cinde Books
Friedman, Thomas L. 2009. The World Is Flate. Jakarta: Dian Rakyat.
Huntington, Samuel P. 1996. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York, NY: Simon and Schuster
Nanda Akbar A. 2011. Transformasi Besar China. Yogyakarta: Yogyamedia Utama
Srie-Edi Swasono. 2015. Ekspose Ekonomika, Mewaspadai Globalisme dan Pasar Bebas. Yogyakarta: Pustep-UGM.
Stiglitz, Joseph S. 2007. Making Globalization Work, Mensiasati Globalisasi Menuju Dunia Yang Lebih Adil. Bandung: Mizan.

Sumber : NASKAH ORASI BUDAYA Acara Peluncuran Buku PERLAWANAN BUDAYA Taman Budaya Mataram,22 April 2017

 

sapalah kami dengan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s