TUNGKUP SAMAWA (Tabir sejarah yang tak terungkap)

Ditulis Oleh : Yudi Manyurang S.Ip
(Pemerhati Budaya dan Staf Pengajar AMIKOM Sumbawa)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

“…Sejarah memang tidak memberikan solusi, tetapi memberikan bahan untuk mendapatkan Kearifan. Bangsa ini bukan hanya kurang mengarifi sejarah, tetapi juga masih terus memelihara dendam sejarah. Juga sibuk mencari kebenaran sendiri, sehingga lupa bagaimana merajut KeIndonesiaan. Padahal, hanyalah bangsa yang bisa melupakan dendam sejarahnyalah yang akan menjadi bangsa yang besar…”

(Taufik Abdullah;  Kompas, 6 Agustus 2005)

 

…Gila we’ batin tu kami
Den kuning bae si guger
Pang kami kasungkar puin…
(Lawas Samawa)

Sekilas Tentang Musakara Rea

Beberapa waktu yang lalu, telah dilaksanakan Musakara Rea Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) dalam rangka merevitalisasi diri agar kedepannya mampu memelihara segenap tata nilai yang terkandung didalam adat istiadat, tradisi, kearifan lokal dan berbagai peninggalan warisan sejarah yang harus dilestarikan, diwariskan serta dikembangkan kepada generasi akan datang sebagai pewaris adat dan budaya Tau ke Tana’ Samawa. Berangkat dari semangat kebersamaan dan kekeluargaan sehingga event besar tersebut mampu terlaksana dengan “baik” meskipun pada dasarnya tidak menyentuh akar dari kebudayaan kita sebagai Tau ke Tana’ Samawa, namun Penobatan Putra Mahkota DMA Kaharuddin Sebagai SULTAN SUMBAWA dengan Gelar SULTAN KAHARUDDIN IV. Hanya penobatan inilah yang setidaknya membuat para peserta merasa senang dan terharu. Mungkin bagi sebagian kalangan melihat event tersebut telah menghasilkan sesuatu yang besar sesuai dengan nama Musakara Rea atau telah menciptakan sejarah baru bagi Tau ke Tana’ Samawa. Akan tetapi semua itu, ternyata kita hanya mampu untuk berkhayal tentang adat istiadat, budaya, tradisi, kearifan local serta berbagai peninggalan sejarah. Bagaimana tidak, dalam proses Musakarah Rea yang notabene BESAR hanya mampu melahirkan pemikir-pemikir yang kerdil yang hanya ingin mempertahankan dan memperkenalkan kehebatan diri sendiri tanpa mau sedikit mendengar, merenungkan serta meresapi apa sebetulnya hakekat Musakara Rea sehingga kegiatan ini sangat penting untuk dilakukan. Tetapi yang terjadi adalah upaya mengukuhkan budaya ‘menjilat’ atau didalam bahasa Samawa kita “malela”, sehingga tak banyak dari peserta yang kecewa terhadap pelaksanaannya karena tidak sesuai dengan nilai-nilai kita sebagai Tau ke Tana’ Samawa. Inilah suasana yang terjadi didalam proses Musakara Rea. Tentu semua ini membuat persendian kita kecewa

Sebagai generasi muda yang telah ambil bagian dalam event tersebut sangat menaruh harapan besar pada Musakarah Rea, untuk membicarakan Sumbawa dalam banyak hal terlebih berbicara Sumbawa sampai ke akar-akarnya, misalnya sejarah masuknya Islam ke Tana’ Samawa dan persoalan yang menyangkut tentang hukum adat kita Tau ke Tana’ Samawa, ini hampir tak tersentuh. Kenapa ini penting untuk dikemukakan karena ada beberapa versi literature yang berbicara tentang sejarah masuknya Islam ke Tana Samawa, namun mungkin hal ini tak banyak orang yang mengetahui. Untuk lebih memperjelas, ada tiga versi tentang sejarah masuknya islam ke Tana Samawa yaitu (1). Manggaukang Raba, mengatakan dalam Bukunya bahwa Islam masuk ke Tana Samawa sekitar akhir abad 15 dan awal abad 16 atau tepatnya tahun 1623 masehi. (2). Dalam Buku Bima and Sumbawa terjemahan Muslimin Yasin, menuliskan bahwa Islamisasi di Tana Samawa adalah sekitar tahun 1620 masehi. (3). Dalam buku Begawan Hamid yang dipublikasikan oleh Dinas pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Sumbawa, mengatakan bahwa Islam masuk ke Sumbawa sekitar tahun 1674 masehi. Ini penting untuk kiranya dipublikasikan karena kekwatiran kita pada generasi akan datang yang telah membaca salah satu versi sehingga menjadi satu kesimpulan yang pada akhirnya akan menyesatkan dalam ruang lingkup sejarah yang memalukan sekaligus memilukan kita karena bukti-bukti dari literatur yang ada adalah gambaran sesungguhnya bahwa sejarah masuknya Islam ke Tana Samawa masih menjadi perdebatan yang memerlukan kajian dan penelitian secara otentik serta mampu kita pertanggungjawabkan disamping bahwa sesungguhnya proses Islamisasi Sumbawa masih belum jelas dan bisa dikatakan “Rapuh”. Catatan kritis yang bisa disampaikan kepada para penulis sejarah, adat istiadat dan budaya Samawa, kiranya mencantumkan literatur yang jelas sehingga dapat dipertanggungjawabkan tentang apa yang ditulisnya.

Sementara di sisi lain, Sultan Muhammad Kaharuddin IV dalam silaturrahmi dengan pers (selasa,18/2/2011) di Istana Bala Kuning. Yang Mulia Sultan Kaharuddin IV menjelaskan sekaligus menegaskan bahwa Hari Jadi Sumbawa jatuh pada tanggal 1 Muharram 1648. Perhitungan ini berdasarkan pada resminya Sumbawa menjadi Kesultanan dan resmi menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman bernegara dan bermasyarakat. (Baca : Gaung NTB, Rabu, 19 Januari 2011). Jika demikian adanya, maka satu hal yang mungkin menjadi pertanyaan kita adalah apa korelasi antara Kerajaan dan Kesultanan Sumbawa yang resmi terbentuk dengan empat Kerajaan Tertua di Tana’ Samawa seperti yang telah kita ketahui bersama yaitu, Kerajaan SERAN, Kerajaan UTAN KADALI, Kerajaan SAMAWA PUIN dan Kerajaan EMPANG

Jika kita mengacu pada dua literatur diatas, Manggaukang Raba dan Muslimin Yasin maka bisa kita simpulkan bahwa sesungguhnya Islam telah lebih dulu masuk ke Tana’ Samawa sebelum Kerajaan dan Kesultanan Sumbawa resmi didirikan. Kesimpulan ini cukuplah mendasar mengingat dan melihat tahun masuknya Islam atau proses Islamisasi di Tana’ Samawa. Sementara jika kita mengacu pada literatur Begawan Hamid, maka kesimpulannya adalah bahwa telah resmi Kerajaan dan Kesultanan Sumbawa didirikan barulah Islam masuk ke Tana’ Samawa. Jika benar demikian, maka TUNGKUP SAMAWA dimana harus ditempatkan di dalam kontek sejarah Tau ke Tana’ Samawa karena Tungkup Samawa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah dan proses berdirinya Kerajaan dan Kesultanan Samawa serta Islamisasi Tana’ Samawa. Sungguh menyesatkan kita semua…

Lantas sekarang kita punya keinginan untuk mengembangkan segenap apa yang telah kita miliki sebagai warisan nenek moyang kita, dengan bangga kita memperkenalkan ke dunia luar tentang Sumbawa dengan segala ke-Samawa-annya padahal sejarah sebagai pondasi kita untuk berpijak masih kabur dan tidak dapat kita pertanggungjawabkan secara ilmiah. Suatu kondisi yang sangat menyesatkan buat kita semua. Lantas, apakah kondisi seperti ini masih tetap kita pelihara sebagai bagian dari proses sejarah kita? Orang bijak, tentunya akan menjawab semua ini.

Berangkat dari lawas tersebut di atas, maka harapan besar generasi muda yang terlibat didalam Musakarah Rea LATS adalah mengangkat sekaligus membongkar tentang segenap tata nilai yang terkandung dalam adat istiadat, budaya, tradisi dan kearifan lokal sehingga mampu mengetahui, mengerti dan memahami dengan sebenar-benarnya sampai ke akar-akarnya tentang asal-usul dan sejarah Tau ke Tana’ Samawa. Namun, ternyata semua itu jauh api dari panggangnya karena mungkin tak  banyak yang tahu tentang Tau ke Tana’ Samawa yang sesungguhnya selain Yang Mulia Sultan Kaharuddin IV yang telah banyak memberikan tauladan dan pencerahan yang mencerdaskan karena tanpa itu Musakara Rea tidak akan berarti apa-apa, padahal panitia pelaksana terutama seksi penyiapan tempat dan arena yang telah bekerja keras untuk turut mensukseskan acara tersebut. Lantas, mau dibawa kemana generasi muda Sumbawa jika adat istiadat Samawa belum terkuak dan belum menjadi identitas kita bersama.

Berbicara tentang budaya Tau ke Tana’ Samawa bukanlah hal yang mudah untuk dikemukakan karena budaya kita Tau ke Tana’ Samawa bukanlah budaya yang datangnya begitu saja atau budaya yang serampangan akan tetapi berbicara budaya Tau ke Tana’ Samawa harus membutuhkan kajian dan penggalian secara lebih mendalam untuk mengangkat harkat dan martabat baik budaya dan religi Tau ke Tana’ Samawa. Inilah yang tidak terjadi di dalam Musakarah Rea LATS. Jadi tidak segampang yang kita bayangkan untuk membuka keaslian atau menilai Adat dan Budaya Sumbawa yang sebenarnya. Ini bisa kita buktikan dengan lawas kita Tau Samawa :

…Uleng lalaja tontonan,

Sate gayong bangsa sumer.

Parasa gampang rua na’…

 

…Mana pitu ilat mu ntek

Tingi mu jonyong gagala

Po’ gading siong peras pang…

Berkaca dari lawas diatas, maka benang merah yang bisa kita tarik adalah bahwa sesungguhnya upaya pelestarian, pewarisan dan pengembangan adat dan budaya Tau ke Tana’ Samawa tidak terlepas dari pengetahuan dan pengertian serta pemahaman tentang akar adat dan budaya serta akar sejarah dalam merumuskan gambaran masa depan karena tanpa semua itu mustahil adat dan budaya kita bisa kokoh didalam serbuan arus globalisasi dan modernisasi yang semakin gencar.

Disamping itu juga, kita berharap bahwa pelestarian, pewarisan dan pengembangan segenap tata nilai yang terkandung didalam adat istiadat dan budaya, tradisi dan kearifan lokal mampu untuk berbicara banyak dalam proses transpormasi budaya sehingga mampu menjadi modal sosial dan etos Tau Samawa karena tanpak modal sosial dan etos kebersamaan atau rasa memiliki ke-Samawa-an tentu akan sia-sia agenda besar yang akan kita gagas.

Lantas, apa itu Tungkup Samawa?

Berangkat dari kekokohan dan kharisma serta karakteristik Kerajaan dan Kesultanan Sumbawa sehingga menjadi Kerajaan dan Kesultanan yang cukup di segani di seantero jagad raya. Sebagai bukti kekokohan Kerajaan dan Kesultanan Samawa, secara fisik dapat kita temukan Istana Tua Dalam Loka yang sampai saat ini masih berdiri kokoh ditengah-tengah kita dan bahkan mungkin Istana Tua Dalam Loka merupakan bangunan kayu terbesar di Asia Tenggara. Disamping itu juga, Istana Tua Dalam Loka merupakan benteng tempat Sultan dan Keluarganya berteduh dan bekerja untuk kesejahteraan dan keadilan serta kemakmuran Tau ke Tana’ Samawa. Namun, secara non fisik benteng Kerajaan dan Kesultanan Samawa tak banyak yang tahu dan bahkan mungkin Tau Samawa sendiri tidak tahu menau sehingga bisa disimpulkkan benteng non fisik itu tidak ada. Akan tetapi sesungguhnya hal itu ada dan dimiliki oleh Kerajaan dan Kesultanan Samawa. Untuk lebih jelas, secara non fisiknya telah didirikan suatu benteng yaitu TUNGKUP SAMAWA.

Tungkup merupakan Benteng Kerajaan dan kesultanan Sumbawa yang notabene adalah Benteng “Mistis” kerajaan dan kesultanan Sumbawa pada saat pertamakali Kerajaan Sumbawa didirikan di Tana’ intan bulaeng ini. Tungkup adalah bukti sejarah kekokohan dan kejantanan serta harkat dan martabat Kerajaan dan Kesultanan Sumbawa kala itu. Karena Tungkup sangat erat kaitannya dengan asal-usul kerajaan dan Kesultanan Sumbawa atau proses berdirinya Kerajaan dan kesultanan Sumbawa. Disamping itu juga yang tak kalah pentingnya adalah kaitan Tungkup Samawa dengan sejarah masuknya Islam ke Tana’ Samawa. Namun, sangat disayangkan keberadaannya hampir tidak diketahui oleh banyak orang apalagi fungsi dan tujuan utama didirikannya. Akan  tetapi bagi kalangan-kalangan tertentu cukup paham tentang keberadaan Tungkup Samawa namun berbicara tentang Tungkup seakan-akan menjadi hal yang Tabu untuk dibicarakan padahal ini sangat penting untuk sebuah pondasi ataupun akar didalam menentukan grand disain Sumbawa masa depan. Jika demikian adanya, lantas apa  sesungguhnya korelasi Tungkup Samawa dengan Sejarah masuknya Islam ke Tana Samawa? Ini penting kiranya untuk diungkapkan sebagai bahan refrensi kita didalam menulis kembali tentang sejarah kita sebagai Tau ke Tana’ Samawa sehingga dapat memberikan pandangan yang  jelas dan dapat dipertanggungjawabkan dalam banyak hal.

Informasi yang berkembang dari beberapa tokoh masyarakat yang berhasil penulis temui adalah Bapak M. Nagib Uyang, salah satu tokoh masyarakat Utan dan Bapak Muslimin Yasin, sejarawan Tana’ Samawa. Beliau mengatakan bahwa lokasi Tungkup Samawa berada diantara jembatan dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumbawa, yang tepatnya dulu disitu terdapat pohon beringin sebagai tempat dan lokasi Tungkup Samawa dibangun saat itu. Konon saat itu, aroma mistis juga turut mewarnai perjalanan prosesi pembuatan dan penetapan Tungkup Samawa dengan harapan Kerajaan dan Kesultanan Sumbawa selalu berada didalam perlindungan Yang Maha Kuasa dan dari ancaman malapetaka serta bala bahaya yang bisa merusak tatanan kehidupan dan keberlangsungan Kerajaan dan Kesultanan Sumbawa demi kemakmuran  Tau ke Tana’ Samawa.

Dari semua apa yang telah teruraikan diatas, maka patut kiranya kita sebagai bagian dari Tau  ke Tana’ Samawa ingin mengetahui apa sebenarnya yang telah terpasang dan tertanam didalam Tungkup tersebut sehingga tidak membuat kita menjadi gamang terhadap tradisi dan kearifan lokal kita sendiri. Tak banyak yang bisa kita harapkan, tetapi mungkin paling tidak dengan informasi tentang keberadaan Tungkup tersebut kita mampu menemukan semangat kebersamaan, etos kita sebagai Tau Samawa serta modal sosial kita karena bagaimanapun juga Adat Istiadat dan Budaya Samawa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai Tau Samawa yang patut untuk kita lestarikan, sebagaimana didalam lawas kita Tau Samawa :

…Leng dalam batu ku tembok,

Ngawang ko langit  ku tutet

Ya ku bosan ku gantuna…

Inilah bagian terpenting dari sejarah berdirinya Kerajaan dan Kesultanan Samawa yang tak pernah terungkap sehingga tak banyak pula yang mengetahui baik historis, fungsi dan tujuan utama didirikannya. Mudah-mudahan dengan keluarnya tulisan ini semua pihak dapat membuka mata, membuka hati untuk sebuah kepedulian yang dalam karena bukankah budaya dan kebudayaan itu tumbuh dan berkembang dari rasa peduli. Semogalah… (Kepala_Uyang)

14 Balasan ke TUNGKUP SAMAWA (Tabir sejarah yang tak terungkap)

  1. s19ar chatiano berkata:

    Wah..kren pak Guru.masalah mana yg benar ttg sejarah Samawa,kayakx smuax ada bnar7ada sedikit koreksi bagi masing2 penulis.Yang pasti qta di jaman sekrg ini tlah mempunyai Sultan yg resmi 1000% kbenaranx.Jadi kayakx beliaulah yg bnyak tau ttg Sumbawa dan tau Samawa.Jadi menurut kami apalagi yg perlu di ragukan lagi ttg smua ini?
    Lepas dari sisi lebih&kurangnya,kami Tau Samawa sangat bangga tlah menemukan jadi diri kami setelah gerakan ini muncul.kami skrg merasa menjadi Tau SAmawa ade tutu-tutu na.
    Pak Guru terus aja menulis sambil trus berkoordinasi dgn pihak Bala Kuning & Yang kita Muliakan Sultan Samawa.Sultan Khaharuddin IV.Siapa tau tulisan Bpklah yg trbaik dan kelakx akan menjadi referensi sejarah Samawa buat anak2 cucu Sigar Chatiano khususnya n Tau Samawa pada umumx.
    Sukses Pak Lihin .Trus menulis &berkarya!Salam doa umin srea tau Utan ke sgenap tau anorawi.

    • ihinsolihin berkata:

      Salam KIAK sanak salaki,untuk di ketahui saya sendiri adalah bagian dari sejarah pelantikan sultan dalam muzakarah rea karena saya sendiri sebagai peserta…tapi maksud tulisan ini bukanlah mementahkan sejarah yang telah kita buat tapi sesungguhnya kita tidak mau mempunyai akar budaya dalam konteks sejarah hanya sebatas simbol “KESULTANAN” sementara bukti sejarah baik secara fisik maupun literatus kita abaikan…lihatlah kesultanan jawa di jogja atau kesultanan yang lainnya di nusantara ini mereka begitu mengakar dengan sejarah budayanya sementara kita semua bukti fisik akan keberadaan kesultanan kita terabaikan bahkan kita tidak hiraukan padahal yang akan kita wariskan kepada generasi kita bukanlah cerita tapi sejarah otentik yang mengakar dari bukti fisik…Seperti contoh lihatlah SITUS BATU KANADI yang terletak di kecamatan utan, dulu diatas situs batu kanadi merupakan tempat pengambilan sumpah sang sultan yang di lakukan oleh Ranga, tapi ketika sultan kaharuddin IV di angkat sumpahnya dilakukan didalam masjid dan dilakukan bukan oleh ranga,nah bukankah sejarah ini sudah kita amputasi????dan situs batu kanadi sekarang sudah tidak terurus bahkan di terlantarkan…nah pertanyaannya sekarang, pernahkah terpikir oleh kita saat Sultan KAHARUDDIN IV kelak mangkat siapakah yang akan menggantinya???Putra mahkota???bagaimana kalau putra mahkota tidak ada hanya putri mahkota saja???eeeeee sanak salaki gera,gegar,gogar, ketahuilah hanya bukti sejarah yang akan abadi sepanjang masa, sejarah tanpa bukti (menumental) akan kehilangan jejak dan Generasinya akan punah di telan Jaman yang semakin gamang dan gila….(AKULAH DARAH DAN NAFAS SAMAWA,MESKI TANA BULAENGKU TENGGELAM DI SELANGKANGAN BUMI, NAMUN BENIH TELAH KUTEBAR PADA RAHIMNYA YANG SUBUR DAN RANUM, LANTARAN ASMA MU “SAMAWA” BUKANLAH KEBETULAN, TAPI LANGIT AZZA WA JALLA BERANDA JANNA TUN NA’IM…)

  2. atiek berkata:

    Assalamualikum bapak,, kua balok lalo blog sia ta,,

    Saiia kedengan_dengan kaleng sekolah ta ada misi kebudayaan tapi via FB
    maklum anak muda,,
    Mohon bantuan nya yah pak

  3. elis mintarsih berkata:

    aku bangga menjadi tau samawa,,,lahir dan di besar di sumbawa, Bravo samawa,,,,,,

    K’ lie,,,,,nonda jangka ku kameri ka ada blog ta’ sehingga bau ku ikuti sarea perkembangan samawa,terutama utan.
    salam doa lako sarea tau utan,,,,,terutama lako sarea tau stober,,,,,nonda jangka ku totang desa ku,,,,

  4. SUPRIANTO berkata:

    SAMAWA SABLONG SAMALEWA

  5. icha berkata:

    ass.wr.wb. salam doa mapis manis ko sarea sanak sempu ku tau samawa,ada de date saya eneng tulung ko ina bpak sanak swai slaki de to sejarah samawa ke basa samawa ngaro sia bukukan sejarah nan e ma bau ya to leng tode-tode kt sarea na terutama basa samawa pa peno tode to ta no to bahasa samawa dalam percakapan sangano-ngano, lestarikan basa samawa ma na kita dadi turugi no to basa nini kaki tu. ke sejarah raja de ka kadu merintah pang samawa trus masa kecilnya sultan kaharuddin IV. mohon selamatkan budaya dan permainan rakyat yang hampir punah terutama adat tama lamung ke adat pangantan yg satu persatu terkikis oleh saman. saya bangga jd anak sumbawa dan sy butuh sejarahx

  6. yati berkata:

    Alhamdulillah blog sumbawa ada,tpi sjrah tngkup itu blm bgt apa y aq bca,mksdx sjrah2 adax tngkup gmna,khan ada air tngkup yg biasa di ambl untk mmandkan org mau kwin jga gmna?

  7. I visit daily a few websites and websites to read articles or reviews, except this website offers quality based writing.

  8. Eriel Sobir berkata:

    Sanak slaki/swai yg punya info tentang perkembangan Islam tau hukum Islam di kerajaan Sumbawa. atau tau orang yang banyak tahu tentang perkembangan hukum Islam di Sumbawa… Mohon infonya yaaa (081903495012/ 08889009911; Syahril)

  9. Dea Rangang berkata:

    Ihin mengatakan: Seperti contoh lihatlah SITUS BATU KANADI yang terletak di kecamatan utan, dulu diatas situs batu kanadi merupakan tempat pengambilan sumpah sang sultan yang di lakukan oleh Ranga, tapi ketika sultan kaharuddin IV di angkat sumpahnya dilakukan didalam masjid dan dilakukan bukan oleh ranga,nah bukankah sejarah ini sudah kita amputasi????dan situs batu kanadi sekarang sudah tidak terurus bahkan di terlantarkan…

    Tanggapan: Dalam mengambil sumpah bisa dilakukan dimana saja. Ketika dilakukan didalam Masjid, pemikiran ini mungkin dilandasi karena seorang sultan itu mewakili segenap umat Islam. Kita jangan takut kalau sebagian sejarah itu akan teramputasi, bahkan kadang itu perlu untuk menyelamatkan jiwa. Dalam hal ini jiwa itu adalah agama kita. Biarkanlah situs itu tetap berdiri, asalkan tidak dijadikan sesuatu benda yang disakralkan.

  10. Ian berkata:

    Keren ini pak, ijin share ke media sosial yaaa…

  11. Marjan berkata:

    Mantap Pak Guru………. dengan adanya orang seperti pak guru yang peduli tentang sejarah daerah kita yang tercinta ini menambah pengetahuan kita khususnya saya tentang sejarah sumbawa, karena saat ini banyak orang yang tidak peduli akan sejarah budaya daerah,,, karena di anggap tidak ada gunanya,,,,,,,padahal menurut saya itu mempunyai nilai yang sangat tinggi,,,,, saya minta pak guru untuk menerbitkan buku tentang sejarah perkembangan kerajaaan sumbawa, sejarah perkembangan seni dan kebudayaan sumbawa,,, sejarah perkembangan lawas sumbawa, sejarah perkembangan bahasa sumbawa,,,,,,,dan sejarah adat istiadat sumbawa,,,,,,, supaya kedepannya dalam kurikulum sekolah bisa dijadikan pembelajaran dalam mulok dareah sumbawa,,, kenapa kita harus kalah dengan daerah-daerah lain yang berani mengankat budaya daerah menjadi pembelajaran di sekolah….. mohon jawabannya pak guru……!!!! wassalalam….

  12. Supardi berkata:

    Apa sebenarx yg di tanam[taro] di dalam tungkup sumbawa,ktika proses pembangunan.

    Tlong di jelaskan ke saya,sbagai tau ke tana samawa ta.

    Terimakasih.

sapalah kami dengan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s