​Budaya Kerja Menurut Perspektif Islam

Budaya Kerja Menurut Perspektif Islam

By Badrul Munir

Agama Islam mengandung ajaran yang paripurna. Kaffah! Tidak hanya mengatur ibadah dan muammalah. Tetapi juga memberikan tuntunan dalam hal-hal yang berkenaan dengan akhirat dan alam semesta.  Termasuk anjuran bekerja. Rasulullah Saw dalam suatu hadits bersabda, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.”(HR. Baihaqi).

Pada hakikatnya, Kerja adalah manifestasi dari amal kebajikan. Islam memandang bekerja tidak hanya menyangkut mencari rezeki. Lebih luas dari itu. Berkaitan dengan amalan-amalan kebaikan untuk meraih keberkahan dan keridaan Allah Swt. Sebagai sebuah amal, maka niat dalam menjalankannya akan menentukan nilai suatu pekerjaan.  Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Saw bersabda: “Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh niatnya.” Artinya, kerja atau amal seseorang akan bernilai berdasar apa yang diniatkannya.

Suatu ketika Nabi Muhammad Saw berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Nabi Saw melihat tangan Sa’ad melepuh. Kulitnya hitam legam seperti terbakar matahari. “Kenapa tanganmu?,” tanya Nabi Saw kepada Sa’ad. “Wahai Rasulullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku,” Seketika itu Nabi Saw memegang tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka.”

Dalam kisah yang lain disebutkan, ada seseorang berada di hadapan Nabi Muhammad Saw. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya: “Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Nabi pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah.”_ (HR. Ath-Thabrani).

Kerja adalah perintah suci Allah kepada manusia. Meskipun akhirat lebih kekal daripada dunia, namun Allah tidak memerintahkan hambanya meninggalkan kerja untuk kebutuhan duniawi. Islam menganjurkan bekerja untuk tujuan kedua-duanya. Dunia dan akhirat. Syaratnya, berbuat baiklah dan jangan membuat kerusakan. Dalam kaitan ini, Allah Swt berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu untuk kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari  kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash: 77).

Sedemikian lengkap dan jelasnya Islam memberi tuntunan kepada manusia. Bahkan, kapan waktu manusia seharusnya bekerja pun, diberikan isyarat yang nyata. Adanya siang dan malam di dunia ini, merupakan isyarat akan adanya kewajiban bekerja pada siang hari. Sebagaimana firman Allah Swt, “Dan Kami telah membuat waktu siang untuk mengusahakan suatu kehidupan.” (QS. An-Naba’: 11).

Lalu, di mana dan kapan manusia harus bekerja? Allah Swt telah menyediakan hamparan bumi, meliputi  daratan dan lautan yang lapang ini, sebagai tempat mencari rezeki. “Kami telah menjadikan untukmu semua di dalam bumi itu sebagai lapangan mengusahakan kehidupan. Tetapi sedikit sekali kamu berterima kasih,” (QS. Al-A’raf: 10). Dan Allah Swt juga mengingatkan agar dalam bekerja jangan melupakan Shalat dan senantiasa mengingat Allah Swt. “Apabila Telah ditunaikan shalat, maka menyebarlah di bumi  dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah: 10). Kemudian, secara spesifik dalam suatu hadist, Nabi Saw menjelaskan bahwa waktu pagi adalah waktu yang baik dalam memulai berkerja, karena mengandung keberkahan dan keberuntungan. “Berpagi-pagilah dalam mencari rezeki dan kebutuhan hidup. Sesungguhnya pagi-pagi itu mengandung berkah dan keberuntungan.” (HR. Ibnu Adi dari Aisyah).

Bekerja juga akan membuat manusia lebih merdeka, dengan tidak menggantungkan diri kepada orang lain. Islam juga menganjurkan untuk bekerja dengan sepenuh hati untuk memberikan kualitas hasil terbaik “Sebaik-baik pekerjaan ialah usahanya seorang pekerja jika ia berbuat sebaik-baiknya.” (HR. Ahmad).

Bekerja tidak akan lepas dari bingkai hubungan sosial, karenanya aturan-aturan yang ada harus dipatuhi. Etika dalam bekerja tetap harus dijaga. Dalam konteks hubungan sosial, termasuk organisasional, bekerja adalah amanah. Amanah harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Pengabaian terhadap amanah adalah sebuah pengkhianatan, tidak hanya kepada manusia tetapi juga kepada Allah Swt.

Bekerja dengan sungguh-sungguh adalah syarat sebuah perubahan. Dan, kemajuan yang diraih tanpa kerja keras adalah pengingkaran sunnatullah. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d: 11). Dalam ayat lain diungkapkan, “Dan bahwa seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.“(QS. Al-Najm: 39).

Dari uraian sebagaimana dipaparkan tersebut di atas, secara gamblang Islam memberi tuntunan kepada manusia untuk bekerja. Kerja dan kerja. Yaitu ikhtiar agar manusia bekerja sesuai norma dan etika yang Islami. Norma dan  etika yang mempertautkan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan, yaitu:

_Pertama, *Hubungan individu dengan Allah.* Adanya kesadaran bahwa Allah Swt melihat, mengetahui dan mengontrol seluruh kegiatan manusia. Dalam kondisi apapun, dan akan menghisab seluruh amal perbuatan secara adil kelak di akhirat. Kesadaran inilah yang menuntut individu untuk bersikap cermat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Berusaha keras memperoleh keridaan Allah, dan mempunyai hubungan baik dengan relasinya. Sehingga, tumbuh keyakinan bahwa dalam bekerja, manusia mengusahakan dengan cara sebaik-baiknya dan Allah Swt yang menentukan.

Kedua,Bekerja adalah ibadah. Islam mencintai seorang yang giat bekerja, mandiri, apalagi rajin memberi. Sebaliknya, Islam membenci manusia yang pemalas, suka berpangku tangan dan menjadi beban orang lain. Allah Swt berfirman, “Maka carilah rizki disisi Allah.” (QS. Al ‘Ankabut: 17). Bekerja dalam pandangan Islam begitu tinggi derajatnya. Sedemikian tingginya nilai bekerja, sehingga Allah dalam Al Qur`an menggandengkannnya dengan jihad. “Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah.”(QS. Al Muzzammil: 20).

Ketiga, Bekerja dengan cara yang halal. Bekerja wajib dilakukan dengan cara yang halal dan baik, pada semua jenis pekerjaan. Baik bekerja yang dilakukan secara sendiri atau pun bersama-sama dalam kelompok atau organisasi. Firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”(al-Baqarah: 172). Prinsip halal juga menyangkut cara atau proses bekerja. Dilarang memaksakan seseorang, alat-alat produksi atau binatang dalam bekerja. Semua harus dipekerjakan secara profesional dan wajar.

Keempat, Professionalisme. Bekerja harus memperhatikan profesionalisme, yaitu kemampuan untuk memahami dan melakukan pekerjaan sesuai dengan prinsip-prinsip keahlian. Pekerja tidak cukup hanya memegang teguh sifat amanah, kuat dan kreatif, serta bertaqwa. Dia juga mesti mengerti dan benar-benar menguasai pekerjaannya. Tanpa professionalisme suatu pekerjaan akan mengalami malapetaka dan kebangkrutan, juga menyebabkan menurunnya produktivitas dan kesemrautan manajemen. Rasulullah Saw bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab;“Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.”  (HR. Bukharii).

Kelima,Ramah terhadap lingkungan. Dalam bekerja, Islam mengingatkan agar manusia tidak membuat kerusakan di muka bumi. Alam semesta ini, dengan segala isi yang terkandung di dalamnya, diciptakan oleh Allah Swt dengan memperhatikan hukum-hukum kesetimbangan. Secara tegas di dalam surat Ar Rum Allah Swt memperingatkan, bahwa terjadinya kerusakan di darat dan di laut adalah akibat ulah manusia. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar Rum: 41). Serta dalam surat Al Qashash Allah berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS. Al Qashash: 77). Firman Allah Swt di dalam kedua ayat ini, menekankan agar manusia berlaku ramah terhadap lingkungan (environmental friendly) dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Etika ini menjadi penting, karena menekankan pada prinsip-prinsip kemanfataan yang keberlanjutan.

Berdasarkan penjelasan pada uraian tersebut di atas, budaya kerja menurut perspektif Islam, sangat berkaitan dengan nilai-nilai dan etika Islami, yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits. Nilai-nilai itu teraktualisasi dalam dimensi-dimensi ibadah dan muammalah. Tercermin dalam hubungan manusia dengan alam, etos kerja, ketauladanan, profesionalisme, dan hubungan manusia dengan alam. Bekerja tidak boleh sambil merusak. Berkerja harus memperhatikan kemanfaatan semesta alam ■