SEKILAS TENTANG SUMBAWA DARI BERBAGAI SISI

Kabupaten Sumbawa merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat, dengan jumlah penduduk sekitar 420.720 jiwa berdasarkan sensus tahun 2009.  Mayoritas masyarakat di kabupaten ini menganut Agama Islam atau 96 % dari total jumlah penduduk, di susul oleh Hindu (2,67%), Katolik (0,48%), Protestan (0,41%) dan Budha (0,09%). Agama Hindu sebagai agama terbesar kedua setelah Islam terpusat di 7 (tujuh) kecamatan, yaitu ; Kecamatan Sumbawa 2.939, Lunyuk 2.467, Utan 1.403, Lab. Badas 1.398, Rhee 1060, Plampang 927, dan Labangka 664. Di Kecamatan Lunyuk terdapat 1 (satu) desa yang khusus di huni oleh komunitas Hindu yaitu Desa Sukamaju. Masyarakat Hindu yang ada di Sumbawa sebagian besar berasal dari Bali, namun ada juga yang berasal dari komunitas Hindu yang ada di Lombok. Mereka  masuk ke Sumbawa melalui program transmigrasi[1], maupun dari perpindahan spontan akibat meletusnya Gunung Agung tahun 1951 dan juga atas inisiatif sendiri. Sedangkan agama katolik dan protestan terpusat di Kota Kabupaten dan hanya sebagian kecil yang tersebar di beberapa kecamatan, begitu pula dengan Agama Budha.

 

Tabel 1. Jumlah Pemeluk Tiap-Tiap Agama di Kabupaten Sumbawa

NO.

AGAMA

JUMLAH PEMELUK

1

2

3

4

5

Islam

Hindu

Katolik

Protestan

Budha

 

405.236

11.264

2.042

1.766

402

 

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumbawa

SISTEM KEPERCAYAAN SECARA UMUM
Dari zaman pra sejarah, sistem kepercayaan telah di kenal oleh masyarakat Sumbawa (tau Samawa) baik dalam bentuk animisme, dinamisme maupun totemisme, dan seiring dengan perkembangan jaman, tau Samawa pun mulai mengenal agama yang diawali dengan masuknya agama Hindu dan yang terakhir adalah Islam sebagai agama pamungkas.
Di era modern seperti sekarang ini, kepercayaan-kepercayaan lama masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan tau Samawa.  Untuk menangkal gangguan makhlus halus yang jahat dan berbagai bentuk sihir seperti burak, sekancing, lome-lome, pedang pekir, dan sebagainya, sebagian tau Samawa sering memakai jimat yang dikalungkan di leher maupun ditempelkan pada ikat pinggangnya. Mereka juga percaya dan mendatangi sandro. Selain kepercayaan kepada orang-orang tertentu yang punya kekuatan gaib dan memilki kemampuan meramal nasib, tau Samawa juga mempercayai suara cecak dapat membenarkan perkataan seseorang, mendatangkan keberuntungan maupun sebaliknya, bahkan sangat percaya bila dalam perjalanan bepergian mereka bertemu orang buta berarti pertanda sial baginya

SISTEM MATA PENCAHARIAN

Pertanian
Sawah oleh orang Sumbawa disebut dengan uma, aktivitasnya disebut raboat. Sedangkan petak-petak di areal persawahan disebut bangkat. Di sawah, petani menanam padi saat masuk musim hujan (musim barat). Pelaku pertanian di sawah adalah para pemilik lahan atau diserahkan penggarapannya ke petani penggarap atau musiman dengan sistem bagi hasil. Sedangkan bagi petani yang menggarap sendiri, di kelola oleh seluruh keluarga, baik bapak, ibu maupun anak. Di Sumbawa, ladang yang terdapat di areal persawahan disebut gempang, aktivitas berladang disebut bagempang. Sedangkan ladang yang terdapat di hutan disebut rau, aktivitasnya disebut marau. Proses pembabatan hutan menjadi rau disebut dengan merantas. Di ladang, para petani biasanya menanam palawija terutama kacang hijau (antap). Penanaman palawija ini merupakan tradisi turun temurun, biasanya dilakukan setelah panen padi. Setelah panen, biasanya masyarakat menyerahkan hasil gabahnya ke pabrik penggilingan padi yang rata-rata terdapat di setiap desa. Dari hasil penggilingan itu ada yang kemudian di konsumsi sendiri, namun ada juga yang di jual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Peternakan
Sumbawa merupakan daerah peternakan. Dengan lahan yang luas, hewan-hewan ternak biasanya di lepas begitu saja di lar-lar[1] yang ada. Menjelang senja baru dijemput dan digiring pulang ke kandang, bahkan ada yang pulang sendiri. Bila berkunjung ke Sumbawa, maka di lar-lar tertentu terutama yang dimiliki oleh peternak yang kaya, akan terlihat gerombolan ternak, bahkan saking banyaknya kadang-kadang sampai menutupi bukit. Dengan potensi sebesar itu, Sumbawa kemudian dijadikan sebagai salah satu daerah yang masuk dalam Program Nasional Bumi Sejuta Sapi khususnya untuk kawasan Indonesia Bagian Timur.
Pelaku peternakan di Sumbawa adalah para pemilik ternak yang juga merupakan para petani (petani peternak). Setiap petani rata-rata memiliki hewan ternak, seperti sapi  (sampi), kerbau (kebo), kuda (jaran), bedis (kambing), doma (domba), dll. Ternak-ternak itu di kelola sambil mengurus pertanian. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak memiliki lahan pertanian, dapat lebih fokus dalam mengelola peternakan, dan hali ini biasanya dilakukan oleh masyarakat non petani yang tergiur dengan keuntungan yang didapatkan dari hasil jual beli ternak. Di Sumbawa, bisnis jual beli ternak merupakan salah satu bisnis yang sangat menguntungkan. Bila dikelola dengan baik, bisnis ini akan memberikan keuntungan berlipat ganda.   

Perikanan

Perikanan di Sumbawa merupakan wilayah khusus yang digarap oleh para pendatang terutama dari Bajo, Makasar dan Mandar. Mereka bertempat tinggal di wilayah pesisir yang membentang dari Alas Barat sampai Labuhan Sumbawa dan dari Tarano sampai Lape, selain itu juga terdapat di wilayah Sumbawa bagian tengah, seperti di Moyo Hilir dan Moyo Utara. Rata-rata mata pencaharian mereka adalah petani nelayan.  Penggarapan pertanian biasanya dilakukan pada saat tidak melaut, yaitu pada saat dimulainya musim hujan. Dari hasil tangkapan ikan, sebagian besar kemudian di jual ke pasar, sedangkan sisanya di konsumsi sendiri. Menurut data statistik perikanan, jumlah nelayan paling banyak terdapat di Kecamatan Buer yaitu 1486 orang atau sekitar 10,7 % dari total jumlah penduduk, disusul oleh Labuhan Badas sekitar 1100 orang.
SISTEM PENGETAHUAN
Pemahaman masyarakat Sumbawa tentang sistem pengetahuan ada yang didapatkan dari pengalaman, namun sebagian besar dipelajari dari kitab-kitab kuno yang membahas tentang berbagai macam ilmu pengetahuan. Keberadaan dari kitab-kitab itu merupakan bagian dari perkembangan ilmu tasawwuf yang sangat pesat di Sumbawa. Ada kitab yang secara khusus membahas tentang ilmu perbintangan, yaitu tajal muluk, ada yang menjelaskan tentang ilmu pengobatan dengan menggunakan ramu-ramuan tradisional, ada ilmu tentang tubuh manusia, dll. Semua kitab-kitab ini telah memperkaya khasanah pengetahuan Sumbawa dan menjadikan Sumbawa sebagai salah satu Pusat Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Pengobatan Tradisional di nusantara.

Pengetahuan Tentang Fauna

Keberadaan madu dan kuda Sumbawa yang sangat terkenal merupakan 2 (dua) diantara sekian banyak pengetahuan masyarakat Sumbawa tentang fauna, juga burung (pio), menjangan (mayung), hewan-hewan ternak lainnya, bahkan anjing (asu) yang digunakan untuk nganyang (berburu). Masyarakat Sumbawa memiliki kiat-kiat khusus untuk menjinakkan aning (lebah) dan mengetahui waktu yang tepat untuk mengambil madu. Mereka biasanya menggunakan jampi dan ramuan-ramuan khusus agar tidak tersengat lebah, seperti mengolesi sekujur badan dengan menggunakan bawang. Sedangkan untuk memanggil burung, masyarakat Sumbawa membuat sebuah alat khusus yang terbuat dari bambu yang di sebut dengan sakoak. Salah satu permainan rakyat yang sangat digemari oleh masyarakat Sumbawa adalah maen jaran (pacuan kuda), barapan kebo (karapan kerbau), dan balap kebo timpak, balapan kerbau di dalam air yang deras. Dalam perlombaan ini, hewan-hewan yang diikutsertakan adalah hewan-hewan terpilih. Orang Sumbawa mengetahui mana hewan-hewan yang cocok dijadikan sebagai hewan-hewan pacuan dan mana yang tidak. Luasnya lahan peternakan di Sumbawa memberikan ruang yang lapang bagi tau Samawa untuk mengembangkan kemampuannya khususnya yang berkaitan dengan dunia peternakan.
Pengetahuan Tentang Flora
Bagi masyarakat Sumbawa, dunia flora merupakan dunia yang telah diakrabi sejak ratusan tahun yang lalu. Sebelum adanya obat-obatan modern seperti sekarang ini, tau Samawa telah mengenal fungsi masing-masing tanaman untuk dijadikan sebagai obat, diantaranya ;
1)       Percampuran antara daun bidara, pancar, pandan, tunas pisang dan beras digunakan untuk mengobati penyakit emar mayit atau gizi buruk. Obat ini telah terbukti mampu menyembuhkan anak-anak yang kekurangan gizi, pucat, kurang selera makan, dll,
2)     Getah jarak dicampur dengan air kopi untuk menyembuhkan penyakit mencret (muntaber),
3)      Daun ara di campur dengan kencur dan beras untuk menyembuhkan panas dalam (karapa),
4)     Sedangkan penyakit kamelas atau kaget pada bayi dapat disembuhkan dengan menggunakan jahe dan daun pelas. Caranya sangat unik yaitu jahe terlebih dahulu dibungkus dalam kain atau celana si bayi yang sakit, lalu dengan kain dan celana itu digunakan untuk menarik daun pelas sambil membaca shalawat 1 (satu) kali. Setelah itu, diambil 1 (satu) helai daun, lalu di kunyah.
5)     Dll.
Bukan hanya daun yang dapat dijadikan sebagai obat, tapi juga bagian akar, sehingga dari percampuran berbagai akar-akaran kemudian dijadikan sebagai minyak. Proses membuatnya disebut dengan melala. Minyak Sumbawa yang dibuat dari hasil melala sangat terkenal, bahkan sampai ke luar negeri. Minyak ini dapat digunakan dengan cara diminum dan di urut serta berfungsi untuk menguatkan vitalitas, mengembalikan kondisi akibat kelelahan, dsb. 

Pengetahuan Tentang Tubuh Manusia

Ilmu organologi atau ilmu yang mempelajari tentang organ-organ tubuh manusia telah diketahui oleh masyarakat Sumbawa sejak dahulu kala. Ilmu ini biasanya dipelajari oleh sandro (dukun). Di Sumbawa terdapat dukun yang namanya sandro tolang, yaitu dukun yang secara khusus mempelajari tentang ilmu patah tulang. Tidak sembarang orang mampu mempelajari ilmu ini karena harus menguasai ramuan dan amalan -amalan tertentu. Bagi seseorang yang mengalami patah tulang agak parah, biasanya tulang tersebut dihancurkan terlebih dahulu, setelah itu baru diberikan ramuan dan gips khusus yang terbuat dari kayu. Sedangkan untuk penyakit-penyakit lainnya seperti sakit gigi dapat disembuhkan dengan hanya menekan bagian-bagian tertentu dari leher dan kepala dengan menggunakan 2 (dua) buah jari tangan.
Di beberapa daerah di Kabupaten Sumbawa, khususnya di wilayah pesisir yang rata-rata di huni oleh para pendatang dari Bugis, Bajo, Mandar, dsb, masih berkembang pengobatan tradisional dengan menggunakan patokan huruf-huruf al-Qur’an yang terdapat dalam setiap tubuh manusia. Metode pengobatan dengan cara seperti ini mampu menyembuhkan berbagai penyakit dalam kondisi kronis sekalipun.       

Pengetahuan Tentang Alam Raya

Pengetahuan tentang alam raya merupakan pengetahuan yang berkaitan dengan musim dan astronomi. Masyarakat Sumbawa menyebut musim kemarau dengan musim balit, sedangkan musim hujan dengan musim barat. Di bidang pertanian, waktu menanam padi di sebut dengan musim tanam pade, sedangkan waktu menanam kacang hijau di sebut musim tanam antap. Musim ini juga berlaku untuk berbagai aktivitas masyarakat seperti musim pengantan (musim kawin), musim buya madu (cari madu), musim gotong royong pina bale (gotong royong membangun rumah), dll. Sedangkan menyangkut astronomi, tau Samawa memiliki ilmu yang lengkap. Ilmu ini dipelajari dari kitab-kitab kuno, dan yang sangat terkenal adalah Tajal Muluk. Dalam kitab ini dijelaskan secara rinci tentang berbagai hal yang berkaitan dengan perjalanan bintang. Ilmu ini digunakan untuk membantu masyarakat menentukan kapan saat yang tepat untuk berlayar, merantau, membangun rumah, dsb. 

Pengetahuan Tentang Waktu

Sumbawa merupakan daerah yang sangat kaya dengan istilah-istilah yang berkaitan dengan waktu. Untuk menyebutkan wilayah Sumbawa bagian barat atau daerah tempat matahari terbenam disebut dengan ano rawi, dan ano siyep untuk wilayah Sumbawa bagian timur atau daerah tempat matahari terbit. Dalam kesenian tradisional Sumbawa juga digunakan istilah ini terutama dalam temung (jenis tembang) sakeco dan temung (jenis pukulan) genang (gendang) yang disebut dengan temung ano rawi dan temung ano siyep. Dalam ulan (salah satu bentuk tembang Sumbawa), dikenal istilah yang lain, yaitu ; ulan tengari (pagi hari), ulan ntek ano (siang hari dalam posisi matahari sedang meninggi), ulan rawi ano (sore hari menjelang senja), ulan petang (malam hari), dan ulan tenga petang (tengah malam).
Pada jaman dahulu penanggalan yang digunakan oleh masyarakat Sumbawa adalah penanggalan Islam. Nama-nama bulan seperti Januari, Februari, dst, merupakan nama-nama bulan yang baru muncul belakangan ini. Sedangkan menyangkut tingkatan waktu khususnya yang berkaitan dengan hari, masyarakat Sumbawa mengenal 8 tingkatan waktu, yaitu ; 1. Satowe Perap (dua hari yang lalu, 2. Saperap (kemarin), 3. To (sekarang), 4. Nawar (besok), 5. Puan (lusa), 6. Telen (3 hari lagi), 7. Patan (4 hari lagi), dan 8. Liman (5 hari lagi). Selain itu, di bidang pertanian, juga terdapat istilah-istilah yang berkaitan dengan waktu seperti waya mata, waya begaba, mole pade dan mole antap, mole mulir, dsb.

Pengetahuan Tentang Bilangan

Masyarakat Sumbawa mengenal beberapa macam bilangan, mulai dari satuan, puluhan hingga ribuan.Bilangan yang terdapat di Sumbawa adalah :

 

Tabel 2. Bilangan satuan, puluhan, ratusan dan ribuan.

Satuan

Puluhan

1    ;    sai, sopo, sepa, seke

2   ;    dua, dopa

3   ;    telu

4   ;    empat

5   ;    lima

6   ;    enam

7   ;    pitu

8   ;    balu

9   ;    siwa

10;    sepulu

11  ;    solas

12  ;    dua olas

dst

 

20; dua pulu sai

dst

Ratusan

Ribuan

100  ; serates

101    ; serates sai

 

1000 ; seribu

 

Dalam bilangan Sumbawa, angka 1 (satu) memiliki jumlah paling banyak, yaitu 4 (empat) buah. Keempat angka ini masih tetap digunakan, hanya penempatannya yang disesuaikan dengan konteksnya, seperti angka 21, tidak bisa dikatakan dengan dua pulu sopo, dua pulu sepa, atau dua pulu seke, tapi dua pulu sai. Sedangkan kata sopo, lebih banyak digunakan dalam bahasa lawas (syair Sumbawa), seperti sopo sapolak, dsb.

SISTEM SOSIAL KEMASYARAKATAN

Kelompok Kekerabatan

Dalam sistem kemasyarakatan tau Samawa terdapat kelompok-kelompok kekerabatan, baik kerabat dekat maupun kerabat luas. Kerabat dekat terdiri dari bapak, ibu, dan anak, sedangkan kerabat luas disebut dengan pata yang terdiri dari orang tua dan anak sampai tingkatan ke enam ditambah dengan paman, bibi, sepupu, dst.
Di bawah ini akan disebutkan satu persatu nama anggota kelompok kekerabatan dalam bahasa Sumbawa, yaitu :

 

Tabel 3. Nama anggota kelompok kekerabatan

Ke atas

Ke bawah

1.   Bapak, mame, abu, teta (khusus Bugis) ; ina, indo (KSB), umi (khusus Arab)

2.  Papen (orang tua bapak)

3.  Balo (orang tua papen)

4.Tolo (orang tua balo)

5.  Mi (orang tua tolo)

6.Pata (orang tua mi)

 

1.   Anak (anak)

2.  Papu (anak dari anak)

3.  Balo (anak dari papu)

4.Tolo (anak dari balo)

5.  Mi (anak dari tolo)

6.Pata (anak dari mi)

Ke samping

Ke samping atas

1.   Adi’ ; adik

2.  Kaka’ ; kakak

3.  Sempu ; sepupu

4.Sempu sai ; sepupu satu

5.  Sempu dua ; sepupu dua

6.Sempu telu ; sepupu tiga

 

1.   Ea’ ; kakak dari orang tua untuk laki-laki maupun perempuan

2.  Nde’ ; adik laki-laki orang tua

3.  Kemina’ ; saudara laki-laki dan perempuan dari orang tua

Ke samping bawah

Hubungan dari hasil perkawinan

1.   Kemanak ; keponakan

 

 

1.   Mentua ; mertua

2.  Semar ; besan

3.  Nantu ; menantu

 

Istilah Kekerabatan

 

1.   Purang ; rumpun keluarga

2.  Sanak ; keluarga

 

 

 

Sistem Gotong Royong

Dalam sistem gotong royong, masyarakat Sumbawa mengenal istilah basiru dan nulung. Basiru merupakan sebuah tradisi yang dibangun untuk memperkuat silaturrahim masyarakat melalui sistem gotong royong yang dilakukan dalam berbagai aktivitas, seperti pertanian, membangun rumah, dsb. Sedangkan nulung merupakan bantuan yang diberikan pada saat upacara perkawinan, khitanan, kematian, dsb. Kedua tradisi ini diperkirakan berasal dari masa Islam. Di bidang pertanian, salah satu bentuk basiru adalah memberikan bantuan dalam bentuk tenaga dan kadang-kadang juga materi terutama pada saat mulai masuk musim tanam dan masa panen. Dalam tradisi ini orang yang telah di bantu memiliki kewajiban untuk membayar pada giliran berikutnya ketika tiba masa orang-orang yang telah membantunya mulai mengerjakan sawah atau ladangnya. Kewajiban tersebut dinamakan dengan bayar siru. Di Kecamatan Orong Telu, dan juga di beberapa kecamatan lainnya di Sumbawa, gotong royong membangun rumah masuk dalam kalender musim masyarakat. Kegiatan ini biasanya dilakukan sebelum musim hujan atau musim tanam, yaitu antara bulan Juli s/d Agustus.  Dalam pelaksanaan kegiatan ini terdapat simbol pemersatu yaitu Ela Bate Tarang Tajo yang diucapkan secara bersama-sama terutama pada saat menaikkan tiang rumah. Ela bate tarang tajo merupakan sebuah nilai yang memberikan ruang lebih pada demokratisasi, kepedulian sosial, kebersamaan tanpa dibatasi oleh status sosial dan usia, dimana setiap elemen dengan latar belakang berbeda bekerja sama membangun kesetaraan.


Sumber : SAKAYALOWAS

***Yang mengcopy Paste tulisan ini harap mencantumkan Sumbernya guna kita menghargai Tulisan dan karya seseorang agar anda tidak dikatakan PLAGIAT

 

Pos ini dipublikasikan di SEKILAS TENTANG SUMBAWA DARI BERBAGAI SISI dan tag . Tandai permalink.

sapalah kami dengan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s