Wajah Sumbawa Pada Masa Pra Islam

Wajah Sumbawa Pada Masa Pra Islam

Sarkofagus di Ai Renung,  Batu Tering, Moyo Hulu

Sarkofagus di Ai Renung,
Batu Tering, Moyo Hulu

Jauh sebelum Islam menjejakkan kakinya di bumi Sumbawa, di tanah ini telah terdapat kehidupan. Berawal dari pulau kosong tidak berpenghuni, lambat laun mulai didiami oleh penduduk, kemudian semakin lama semakin berkembang sehingga membentuk beberapa komunitas masyarakat. Proses ini terjadi secara alamiah, karena alam memberikan ruang bagi manusia untuk ditempati dan di kelola. Pada perkembangan berikutnya, dari komunitas-komunitas tersebut lahir suku-suku dengan hukum dan tradisinya masing-masing. Hukum tercipta untuk mengatur kehidupan masyarakat yang saat itu mulai berkembang. Kepala suku pun di pilih dari orang yang terkuat di antara mereka. Dari kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan kemudian melahirkan tradisi-tradisi baik dalam bentuk tradisi adat maupun tradisi ritual.

Masa pra sejarah atau nirleka (nir ; tidak ada, leka ; tulisan) merupakan masa yang dimulai dari adanya kehidupan di bumi yaitu pada zaman palaezoikum dan berakhir ketika ditemukannya tulisan sebagai tanda dimulainya masa sejarah.

Dalam menelusuri keberadaan masa pra sejarah di Sumbawa dapat diketahui dari beberapa peninggalan pra sejarah yang ditemukan di beberapa tempat. Penemuan-penemuan ini memiliki nilai yang sangat penting karena menunjukkan tentang keberadaan manusia purba Sumbawa sekaligus memberikan petunjuk tentang hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas mereka baik yang berkaitan dengan bentuk kepercayaan yang berkembang, sistem sosial kemasyarakatan maupun sistem mata pencaharian.

BENTUK KEPERCAYAAN

Di Sumbawa, sistem kepercayaan telah berkembang sejak zaman megalitikum atau zaman batu besar,  hal ini diketahui dari beberapa penemuan peninggalan pra sejarah di beberapa tempat seperti sarkofagus ; media pemujaan berbentuk peti jenazah yang terbuat dari batu bundar (batu tunggal), kubur batu ; peti jenazah yang terbuat dari batu pipih dan nekara ; peninggalan kebudayaan Dong Son yang terbuat dari perunggu. Sarkofagus ditemukan di 3 (tiga) tempat di Kecamayan Moyo Hulu, yaitu di Ai Renung, Batu Tering dan Raboran (Sebasang) serta penemuan lainnya di Temang Dongan, Kecamatan Lape. Di kecamatan Moyo Hulu juga ditemukan kubur batu yaitu di Tarakin dan di Lutuk Batu Peti Desa Sempe. Sedangkan nekara ditemukan di kaki bukit Makam Seran, Seteluk, KSB.

Animisme

Situs di Tarakin Sumber : Aries Zulkarnaen

Situs di Tarakin Sumber : Aries Zulkarnaen

Animisme atau kepercayaan kepada arwah para leluhur merupakan sebuah sistem kepercayaan yang bentuknya masih sangat sederhana. Dari sarkofagus yang ditemukan di Ai Renung maupun Temang Dongan yang bertemapt di daerah ketinggian, terdapat beberapa relief yang berbentuk pahatan muka manusia. Pahatan ini merupakan titisan atau representasi dari orang yang telah di kubur. Orang-orang yang dikuburkan di sarkofagus biasanya adalah tokoh-tokoh masyarakat seperti para kepala suku, syawan (pemimpin upacara ritual), maupun tokoh-tokoh penting lainnya. Pada saat penguburan, sarkofagus biasanya diletakkan di daerah ketinggian, karena masyarakat percaya bahwa ditempat itulah bersemayam roh-roh leluhur mereka.
Sistem kepercayaan yang lebih maju dapat diketahui ketika ditemukannya nekarapada tahun 1932 di kaki bukit Makam Raja Seran, Seteluk KSB. Nekara yang terbuat dari perunggu itu memiliki fungsi sebagai media untuk meminta hujan, sebagai genderang perang dan pengiring upacara kematian. Pada masa kebudayaan perunggu atau Dong Son ini, jelas terlihat bahwa pola pikir masyarakat sudah lebih maju dari sebelumnya. Hubungan ke alam roh tidak lagi menggunakan simbol-simbol atau ritual yang sederhana, tapi sudah mampu memanfaatkan media yang lebih modern. 


Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, Jaman Prasejarah di Indonesia karangan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto menyebutkan bahwa nekara ini pernah di teliti oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang dipimpin oleh A. Cholid Sodrie. Nekara yang ditemukan di Seran ini  berukuran tinggi 40 cm dan garis bidang pukulnya 51 cm. Pada bidang yang digunakan untuk memukul, sudah agak rusak sehingga pola hiasnya sulit untuk diketahui yang masih tampak adalah pola bintang bersinar 12, pola meander dan pola burung berparuh panjang yang sedang terbang yang hanya tampak satu ekor. Bagian bahu mempunyai 2 (dua) pasang pegangan yang berpola hias tali, dan salah satu pegangannya sudah patah. Pola hias yang masih tampak pada bagian ini adalah pola tangga, pola garis-garis dan pola perahu. Pada bagian pinggang terdapat pola hiasan tangan sedangkan pada kaki tidak tampak pola hiasan.

Situs Lutuk Batu Peti di Desa Sempe, Moyo Hulu,Sumber : Aries Zulkarnaen

Situs Lutuk Batu Peti di Desa Sempe, Moyo Hulu,Sumber : Aries Zulkarnaen

Bila pada kebudayaan megalitikum, seseorang yang meninggal dikubur di sarkofagus, tapi pada masa ini, bentuk kuburannya lebih kecil yang disebut dengan peti  batu. Pada penemuan Kubur Batu di Tarakin dan di Lutuk Batu Peti Desa Sempe, peti batu ini di tanam di tanah dan dibuat dari papan batu yang di susun sedemikian rupa sehingga membentuk seperti sebuah kuburan. Di dalam kuburan ini juga diikutsertakan benda-benda peninggalan orang yang meninggal yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, maksudnya adalah untuk menemaninya ketika telah tiba di alam arwah.

Sedangkan pada upacara minta hujan, nekara di tabuh sehingga menghasilkan kekuatan gaib untuk memancing datangnya petir dari langit (Dalam nekara yang ditemukan di Seteluk, simbol langit ini dilambangkan dengan gambar bintang bersinar 12). 

Motif Bintang 12 yang terdapat di Nekara Seran

Motif Bintang 12 yang terdapat di Nekara Seran

pada masa kini, di Sumbawa terdapat sebuah upacara yang khusus dilaksanakan untuk minta hujan yaitu Upacara Tanak Eneng Ujan. Upacara ini dulunya dilaksanakan pada masa kesultanan. dengan barisan panjang yang di pimpin oleh seorang wanita yang bertindak sebagai ina sandro. Mereka berjalan sambil menarikan gerak betanak dan membacakan doa-doa khusus yang ditujukan kepada Allah SWT sebagai Sang Pemilik Hujan. Untuk saat ini, upacara ini masih dilaksanakan di kecamatan Empang yang dikenal dengan nama Upacara Bayayu dan di Desa Tepal, Kecamatan Batu Lanteh.

Dalam ”buk’ Desa Tepal dijelaskan secara singkat tentang prosesi Upacara Eneng Ujan. Upacara ini dilaksanakan dalam 3 (tiga) tahap sesuai dengan kondisi kebutuhan. Bila hujan belum juga turun setelah pelaksanaan upacara yang pertama maka dilanjutkan sampai upacara yang kedua dan ketiga. Upacara pertama dilaksanakan di mesjid atau halaman desa yang diikuti oleh seluruh masyarakat. Upacara ini dilaksanakan dalam bentuk shalat berjamaah dilanjutkan dengan zikir dan pembacaan tahlil disertai dengan selamatan sederhana (bersedekah). Bila hujan belum juga turun, maka oleh hukum mesjid,ulama dan tokoh masyarakat setempat memindahkan lokasi upacara ke sebuah puncak bukit bernama Puncak Ngengas (Diatas salah satu Puncak Ngengas, terdapat sebuah tempat khusus yang seringkali digunakan oleh masyarakat Tepal untuk melaksanakan Upacara Eneng Ujan yang di sebut dengan Puncak ”Betu Tunuun” (Puncak Batu Bersusun) yang tingginya sekitar 7 m dan lebarnya 4 meter. Ada yang aneh dari batu bersusun ini, pada bagian bawah batu yang paling tinggi yang berukuran lancip (tajam) meskipun, namun tidak pernah jatuh atau goyang sedikitpun).

Sistem kepercayaan lain yang terdapat dalam faham animisme adalah kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus. Di Sumbawa makhluk-makhluk halus di kenal dengan nama ; baki’, kono’, longga, serusu (Sejenis makhluk halus yang sering mangkal diatas pohon dan biasanya suka melempar manusia dengan pasir atau kerikil. Serusu juga bisa dianggap sebagai makhluk halus yang menjadi penyebab ketika seseorang tiba-tiba kaku dan tidak bisa bernafas pada saat tidur), sukampek (Makhlus halus perempuan yang memiliki susu panjang sampai menjuntai ke tanah, di Sumbawa dikenal dengan nama Nyi Seruni, sedangkan di Kabupaten Sumbawa Barat yaitu Ina Mambe yang dianggap sebagai penunggu pantai Labuhan Balat) (nyi seruni/ina mambe), dewa bisu (Nama makhluk halus yang hanya ada di Plampang yang biasanya beroperasi pada saat diadakan keramaian di lapangan Plampang. Korbannya biasanya orang yang memakai baju kuning), leak, jin, setan, tuyul, iblis, dsb. Nama-nama seperti jin, setan maupun iblis berasal dari pengaruh Islam. Sedangkan nama-nama asli Sumbawa adalah baki, kono, longga, serusu, roga dan sukampek. Baki adalah sejenis makhluk halus yang bertempat tinggal di hutan terutama di pohon-pohon besar dan angker, sedangkan kono adalah makhluk halus yang sering berkeliaran di siang hari terutama pada saat-saat yang sepi, dan longga adalah makhluk hitam yang tinggi besar dan menyeramkan, biasanya muncul di sungai, hutan, dsb.

Dalam konsepsi berfikir masyarakat pada masa pra sejarah, makhluk-makhluk halus adalah raja atau penguasa di wilayahnya masing-masing. Mereka telah tinggal di tempat itu jauh sebelum datangnya manusia. Mereka tidak bisa di lawan dengan kekerasan, karena mereka memiliki kesaktian yang jauh melebihi manusia. Salah satu cara agar mereka tidak mengganggu manusia adalah dengan mengadakan upacara-upacara ritual khusus melalui pemberian sesajen.

Dinamisme

 Sarkofagus di Temang Dongan, Lopok....Sumber : Aries Zulkarnaen.

Sarkofagus di Temang Dongan, Lopok….Sumber : Aries Zulkarnaen.

Dalam faham dinamisme, jiwa atau roh tidak hanya dimiliki oleh makhluk hidup, tapi juga terdapat pada benda-benda mati. Adanya kepercayaan ini akhirnya melahirkan bentuk-bentuk pemujaan terhadap batu, gunung, senjata, dsb.

Sistem kepercayaan ini semakin berkembang ketika masyarakat mulai mengenal mantra sebagai salah satu media yang digunakan dalam berhubungan dengan alam roh, bahkan mantra dianggap memiliki kekuatan tersendiri karena mampu menjadikan sebuah benda seperti tombak atau tongkat memiliki tuah atau kesaktian.

Lewat mantra para syawan atau sandro menyampaikan harapan-harapan masyarakat kepada para roh leluhur, baik yang berkaitan dengan pertanian, perburuan, dsb. Pada masyarakat Sumbawa hingga saat ini, kepercayaan dinamisme masih terus berkembang namun dengan ”wajah” yang berbeda. Mantra tetap digunakan sebagai bagian dari tradisi, dan masyarakat tidak lagi menganggap sebuah benda pusaka murni memiliki tuah, tapi disebabkan karena adanya kekuasaan Tuhan yang menjadikan sebuah benda memiliki kesaktian. Namun demikian, dikalangan tertentu, masih banyak yang melakukan upacara ritual khusus terhadap benda-benda pusaka mereka.

Di Sumbawa, selain benda-benda pusaka kesultanan yang saat ini banyak tersimpan di Bala Kuning, juga terdapat barang-barang pusaka lainnya yang dimiliki oleh individu masyarakat, yang terkenal adalah ; Keris Samba, Tear (Tombak) Teman Tampir, Tear Brang Bayan, dan sebuah rompi sakti bernama Paruma Ero. Selain itu, juga terdapat nama-nama lainnya seperti Pecunang, senjata peninggalan Lalu Anggawasita dan Undru, dll.  

Totemisme

Motif Buaya  di Sarkofagus Ai Renung,  Batu Tering

Motif Buaya
di Sarkofagus Ai Renung,
Batu Tering

Totemisme merupakan suatu bentuk kepercayaan kepada binatang tertentu yang dinggap memiliki kekuatan. Di Sumbawa, sistem kepercayaan ini telah berkembang  sejak masa pra sejarah. Dalam sarkofagus yang ditemukan di Ai Renung, salah satu simbol yang digunakan adalah buaya yang digunakan sebagai media penghubung ke alam roh. Digunakannya simbol ini karena buaya dianggap mampu hidup di 2 (dua) dunia.

Dalam konteks kekinian, sebagian masyarakat Sumbawa masih mempercayai bila suara tokek dapat membenarkan perkataan sesesorang, atau bila bertemu dengan capung (keludu) dapat mendatangkan kesialan.     

Agama Kafitayan

Agama kafitayan merupakan agama pribumi nusantara yang hidup jauh sebelum berkembangnya Hindu di Indonesia sebagai perkembangan berikutnya dari kepercayaan animisme. Dalam buku Peta Walisongo karangan Agus Sunyoto, dijelaskan bahwa agama kafitayan merupakan agama yang sudah mengenal Tuhan Yang Esa sebagai simbol dari agama tauhid yang bernama Sang Hyang Taya yang berarti kosong atau hampa. Taya sendiri berarti Yang Absolut atau Tunggal. Kekuatan Sang Hyang Taya ini diimplementasikan dalam bentuk Tu atau To yang bermakna gaib, sehingga lahir istilah watu, batu, dsb. Bagi orang-orang yang telah mampu menguasai kekuatan Sang Hyang Taya di sebut dengan Ratu atau Datu (Di Sumbawa, Datu merupakan gelar yang dinisbatkan kepada putera raja atau pemimpin/kepala suku. Gelar ini bukan berasal dari pengaruh Gowa, karena di Kerajaan Gowa tidak dikenal istilah Datu tapi Daeng atau KeraEng) Dalam diri Sang Hyang Taya terdapat 2 (dua) sifat yang berbeda yaitu sifat Tu yang baik, yang mendatangkan  kebaikan, kemuliaan, kemakmuran dan keselamatan kepada manusia. Tu yang bersifat baik ini disebut dengan Tu-han, sedang yang bersifat kejahatan disebut han-Tu.

Masyarakat penganut Kafitayan meyakini bahwa sifat ketuhanan Sang Hyang Taya bersemayam dalam benda-benda yang memiliki keterkaitan dengan nama-nama yang didalamnya terdapat kata Tu dan To, seperti ; Wa-Tu (batu), Tu-gu, Tu-lang, Tu-nda (punden berundak-undak), To-peng, dsb.Maka dalam agama Kafitayan, praktek ibadah yang dilakukan oleh kalangan awam kepada Sang Hyang Taya dilakukan melalui sarana peribadatan, sedangkan untuk kalangan ”ulama-ulama sufi”nya yang telah mencapai tingkatan tinggi langsung berhubungan dengan Sang Hyang Taya, diawali dengan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap Tu-tuk (lubang) sambil mengangkat kedua tangan dengan maksud menghadirkan Sang Hyang Taya di dalam Tu-tud (hati).

Tidak diketahui bagaimana perkembangan agama ini di Sumbawa, tapi diperkirakan dimulai pada masa megalitikum, sesuai dengan hasil penemuan terhadap beberapa benda pra sejarah. Bila menelusuri sejarah latar belakang lahirnya nama-nama desa maupun kecamatan di Kabupaten Sumbawa terutama terhadap toponimi nama-nama desa maupun kecamatan yang diawali dengan kata batu seperti Batu Tering, Batu Dulang, Batu Lanteh, Batu Rotok, Batu Mega maupun Batu Bulan, kemungkinan besar ada kaitannya dengan pemujaan terhadap batu yang dilakukan oleh masyarakat pada jaman dulu. Banyaknya nama desa atau kecamatan di Sumbawa yang dimulai dengan kata ”batu” ini mengindikasikan bila agama ini pernah berkembang di Sumbawa.


Sumber : SAKAYALOWAS
***Yang mengcopy Paste tulisan ini harap mencantumkan Sumbernya guna kita menghargai Tulisan dan karya seseorang agar kita anda tidak dikatakan PLAGIAT

Pos ini dipublikasikan di Wajah Sumbawa Pada Masa Pra Islam dan tag . Tandai permalink.

sapalah kami dengan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s