Wajah Sumbawa Pada Masa Pra Islam

Sarkofagus di Ai Renung, Batu Tering, Moyo Hulu

Sarkofagus di Ai Renung, Batu Tering, Moyo Hulu

Jauh sebelum Islam menjejakkan kakinya di bumi Sumbawa, di tanah ini telah terdapat kehidupan. Berawal dari pulau kosong tidak berpenghuni, lambat laun mulai didiami oleh penduduk, kemudian semakin lama semakin berkembang sehingga membentuk beberapa komunitas masyarakat. Proses ini terjadi secara alamiah, karena alam memberikan ruang bagi manusia untuk ditempati dan di kelola. Pada perkembangan berikutnya, dari komunitas-komunitas tersebut lahir suku-suku dengan hukum dan tradisinya masing-masing. Hukum tercipta untuk mengatur kehidupan masyarakat yang saat itu mulai berkembang. Kepala suku pun di pilih dari orang yang terkuat di antara mereka. Dari kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan kemudian melahirkan tradisi-tradisi baik dalam bentuk tradisi adat maupun tradisi ritual.

Dalam buku ini, wajah Sumbawa pada masa pra Islam akan dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu Masa Pra Sejarah dan Masa Hindu. Di kedua masa ini akan dijelaskan secara singkat tentang kehidupan masyarakat Sumbawa pada masa lalu, bagaimana penemuan-penemuan peninggalan pra sejarah sangat berarti bagi masa kekinian untuk membuka tabir tentang kehidupan ritual dan sosial kemasyarakatan mereka sebagai interlude sebelum masuk ke masa Islam, karena merupakan satu rangkaian yang utuh.

Masa pra sejarah atau nirleka (nir ; tidak ada, leka ; tulisan) merupakan masa yang dimulai dari adanya kehidupan di bumi yaitu pada zaman palaezoikum dan berakhir ketika ditemukannya tulisan sebagai tanda

dimulainya masa sejarah. Tidak semua negara memiliki masa pra sejarah yang sama. Bangsa Mesir telah mengenal tulisan sekitar abad 4000 SM, artinya pada masa itu Mesir telah memasuki masa sejarah. Bila dibandingkan dengan Indonesia terdapat rentang waktu yang sangat jauh karena berakhirnya masa pra sejarah di Indonesia diperkirakan abad 5 M yang ditandai dengan berdirinya Kerajaan Kutai Kertanegara, sedangkan Sumbawa mungkin 3 atau 4 abad setelah itu.

Dalam menelusuri keberadaan masa pra sejarah di Sumbawa dapat diketahui dari beberapa peninggalan pra sejarah yang ditemukan di beberapa tempat. Penemuan-penemuan ini memiliki nilai yang sangat penting karena menunjukkan tentang keberadaan manusia purba Sumbawa sekaligus memberikan petunjuk tentang hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas mereka baik yang berkaitan dengan bentuk kepercayaan yang berkembang, sistem sosial kemasyarakatan maupun sistem mata pencaharian.

BENTUK KEPERCAYAAN

Masa pra sejarah di Sumbawa seperti juga didaerah lainnya di Indonesia telah berlangsung berabad-abad lamanya. Dalam perjalanan panjang itu, manusia purba Sumbawa telah melahirkan berbagai bentuk sistem kepercayaan. Setiap generasi melahirkan sistem kepercayaan baru yang lebih maju dari generasi sebelumnya. Menurut para ahli sejarah, sistem kepercayaan pertama kali muncul pada zaman megalitikum atau zaman batu besar, kemudian berkembang pesat pada zaman logam. Bentuk kepercayaan yang ada pada saat itu adalah animisme, dinamisme, totemisme dan kafitayan.

Di Sumbawa, sistem kepercayaan telah berkembang sejak zaman megalitikum atau zaman batu besar,  hal ini diketahui dari beberapa penemuan peninggalan pra sejarah di beberapa tempat seperti sarkofagus ; media pemujaan berbentuk peti jenazah yang terbuat dari batu bundar (batu tunggal), kubur batu ; peti jenazah yang terbuat dari batu pipih dan nekara ; peninggalan kebudayaan Dong Son yang terbuat dari perunggu. Sarkofagus ditemukan di 3 (tiga) tempat di Kecamayan Moyo Hulu, yaitu di Ai Renung, Batu Tering dan Raboran (Sebasang) serta penemuan lainnya di Temang Dongan, Kecamatan Lape. Di kecamatan Moyo Hulu juga ditemukan kubur batu yaitu di Tarakin dan di Lutuk Batu Peti Desa Sempe. Sedangkan nekara ditemukan di kaki bukit Makam Seran, Seteluk, KSB.

Animisme

Situs di Tarakin

Situs di Tarakin

Animisme berasal dari kata anima, dari bahasa latin animus dan bahasa yunani anepos, dalam bahasa sansekerta disibut prana, dalam bahas ibrani ruah. Arti kesemua itu adalah napas atau jiwa. Animisme adalah ajaran/doktrin tentang realitas jiwa

Animisme atau kepercayaan kepada arwah para leluhur merupakan sebuah sistem kepercayaan yang bentuknya masih sangat sederhana. Dari sarkofagus yang ditemukan di Ai Renung maupun Temang Dongan yang bertemapt di daerah ketinggian, terdapat beberapa relief yang berbentuk pahatan muka manusia. Pahatan ini merupakan titisan atau representasi dari orang yang telah di kubur. Orang-orang yang dikuburkan di sarkofagus biasanya adalah tokoh-tokoh masyarakat seperti para kepala suku, syawan (pemimpin upacara ritual), maupun tokoh-tokoh penting lainnya. Pada saat penguburan, sarkofagus biasanya diletakkan di daerah ketinggian, karena masyarakat percaya bahwa ditempat itulah bersemayam roh-roh leluhur mereka.

Kedudukan setiap roh sesuai dengan peran dan kedudukannya ketika di dunia. Setiap roh dianggap memiliki kesaktian atau kekuatan supranatural, semakin tinggi tingkatannya, maka semakin tinggi kekuatannya. Pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat diperuntukkan pada roh yang memiliki kedudukan tertinggi.

Situs Lutuk Batu Peti di Desa Sempe, Moyo Hulu

Situs Lutuk Batu Peti di Desa Sempe, Moyo Hulu

Sistem kepercayaan yang lebih maju dapat diketahui ketika ditemukannya nekara pada tahun 1932 di kaki bukit Makam Raja Seran, Seteluk KSB. Nekara yang terbuat dari perunggu itu memiliki fungsi sebagai media untuk meminta hujan, sebagai genderang perang dan pengiring upacara kematian. Pada masa kebudayaan perunggu atau Dong Son ini, jelas terlihat bahwa pola pikir masyarakat sudah lebih maju dari sebelumnya. Hubungan ke alam roh tidak lagi menggunakan simbol-simbol atau ritual yang sederhana, tapi sudah mampu memanfaatkan media yang lebih modern. 

Bila pada kebudayaan megalitikum, seseorang yang meninggal dikubur di sarkofagus, tapi pada masa ini bentuk kuburannya lebih kecil yang disebut dengan peti  batu. Pada penemuan Kubur Batu di Tarakin dan di Lutuk Batu Peti Desa Sempe, peti batu ini di tanam di tanah dan dibuat dari papan batu yang di susun sedemikian rupa sehingga membentuk seperti sebuah kuburan. Di dalam kuburan ini juga diikutsertakan benda-benda peninggalan orang yang meninggal yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, maksudnya adalah untuk menemaninya ketika telah tiba di alam arwah.


Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, Jaman Prasejarah di Indonesia karangan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto menyebutkan bahwa nekara ini pernah di teliti oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang dipimpin oleh A. Cholid Sodrie. Nekara yang ditemukan di Seran ini  berukuran tinggi 40 cm dan garis bidang pukulnya 51 cm. Pada bidang yang digunakan untuk memukul, sudah agak rusak sehingga pola hiasnya sulit untuk diketahui yang masih tampak adalah pola bintang bersinar 12, pola meander dan pola burung berparuh panjang yang sedang terbang yang hanya tampak satu ekor. Bagian bahu mempunyai 2 (dua) pasang pegangan yang berpola hias tali, dan salah satu pegangannya sudah patah. Pola hias yang masih tampak pada bagian ini adalah pola tangga, pola garis-garis dan pola perahu. Pada bagian pinggang terdapat pola hiasan tangan sedangkan pada kaki tidak tampak pola hiasan.

NekaraSedangkan pada upacara minta hujan, nekara di tabuh sehingga menghasilkan kekuatan gaib untuk memancing datangnya petir dari langit (Dalam nekara yang ditemukan di Seteluk, simbol langit ini dilambangkan dengan gambar bintang bersinar 12). Sambil memukul nekara para dukun atau syawan (sandro) memimpin upacara dengan membacakan mantra-mantra yang ditujukan kepada roh leluhur. Para sandro ini biasanya menyamar dengan menggunakan asesoris dalam bentuk binatang bertanduk untuk menggambarkan kondisi mereka pada saat itu, dimana akibat kemarau yang panjang telah mengancam salah satu aktivitas utama mereka yaitu berburu. 

Motif Bintang 12 yang terdapat di Nekara Seran

Motif Bintang 12 yang terdapat di Nekara Seran

pada masa kini, di Sumbawa terdapat sebuah upacara yang khusus dilaksanakan untuk minta hujan yaitu Upacara Tanak Eneng Ujan. Upacara ini dulunya dilaksanakan pada masa kesultanan. dengan barisan panjang yang di pimpin oleh seorang wanita yang bertindak sebagai ina sandro. Mereka berjalan sambil menarikan gerak betanak dan membacakan doa-doa khusus yang ditujukan kepada Allah SWT sebagai Sang Pemilik Hujan. Untuk saat ini, upacara ini masih dilaksanakan di kecamatan Empang yang dikenal dengan nama Upacara Bayayu dan di Desa Tepal, Kecamatan Batu Lanteh.

Dalam ”buk’ Desa Tepal dijelaskan secara singkat tentang prosesi Upacara Eneng Ujan. Upacara ini dilaksanakan dalam 3 (tiga) tahap sesuai dengan kondisi kebutuhan. Bila hujan belum juga turun setelah pelaksanaan upacara yang pertama maka dilanjutkan sampai upacara yang kedua dan ketiga. Upacara pertama dilaksanakan di mesjid atau halaman desa yang diikuti oleh seluruh masyarakat. Upacara ini dilaksanakan dalam bentuk shalat berjamaah dilanjutkan dengan zikir dan pembacaan tahlil disertai dengan selamatan sederhana (bersedekah). Bila hujan belum juga turun, maka oleh hukum mesjid,ulama dan tokoh masyarakat setempat memindahkan lokasi upacara ke sebuah puncak bukit bernama Puncak Ngengas yang selama ini dianggap oleh masyarakat setempat sebagai tempat yang makbul untuk berdoa kepada Allah SWT. Bila dalam waktu tiga atau empat hari, hujan belum juga turun, maka dilaksanakan upacara ketiga. Pada upacara ini, seluruh penduduk desa diperintahkan untuk turun ke kali yang ada di sebelah utara desa Tepal untuk membuat bendungan darurat serta menyiapkan tempat untuk shalat Istisqha (shalat sunat minta hujan). Setelah semuanya siap, maka pemuka agama memimpin shalat sunat dengan diikuti oleh yang semua yang hadir di tempat itu. Setelah selesai dilanjutkan dengan pembacaan tahlil, zikir dan doa bersama. Begitu doa selesai dibacakan, beberapa orang kemudian langsung membopong sang pemimpin doa dan dibawa ke bendungan yang sudah dipersiapkan, setelah itu langsung diceburkan tanpa melepaskan pakaian, sorban dan kopiah yang dikenakan yang kemudian diikuti oleh seluruh masyarakat dengan bersama-sama menceburkan diri ke dalam bendungan.  

Diatas salah satu Puncak Ngengas, terdapat sebuah tempat khusus yang seringkali digunakan oleh masyarakat Tepal untuk melaksanakan Upacara Eneng Ujan yang di sebut dengan Puncak ”Betu Tunuun” (Puncak Batu Bersusun) yang tingginya sekitar 7 m dan lebarnya 4 meter. Ada yang aneh dari batu bersusun ini, pada bagian bawah batu yang paling tinggi yang berukuran lancip (tajam) meskipun, namun tidak pernah jatuh atau goyang sedikitpun.

Sistem kepercayaan lain yang terdapat dalam faham animisme adalah kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus. Di Sumbawa makhluk-makhluk halus di kenal dengan nama ; baki’, kono’, longga, serusu (Sejenis makhluk halus yang sering mangkal diatas pohon dan biasanya suka melempar manusia dengan pasir atau kerikil. Serusu juga bisa dianggap sebagai makhluk halus yang menjadi penyebab ketika seseorang tiba-tiba kaku dan tidak bisa bernafas pada saat tidur), sukampek (Makhlus halus perempuan yang memiliki susu panjang sampai menjuntai ke tanah, di Sumbawa dikenal dengan nama Nyi Seruni, sedangkan di Kabupaten Sumbawa Barat yaitu Ina Mambe yang dianggap sebagai penunggu pantai Labuhan Balat) (nyi seruni/ina mambe), dewa bisu (Nama makhluk halus yang hanya ada di Plampang yang biasanya beroperasi pada saat diadakan keramaian di lapangan Plampang. Korbannya biasanya orang yang memakai baju kuning), leak, jin, setan, tuyul, iblis, dsb. Nama-nama seperti jin, setan maupun iblis berasal dari pengaruh Islam. Sedangkan nama-nama asli Sumbawa adalah baki, kono, longga, serusu, roga dan sukampek. Baki adalah sejenis makhluk halus yang bertempat tinggal di hutan terutama di pohon-pohon besar dan angker, sedangkan kono adalah makhluk halus yang sering berkeliaran di siang hari terutama pada saat-saat yang sepi, dan longga adalah makhluk hitam yang tinggi besar dan menyeramkan, biasanya muncul di sungai, hutan, dsb.

Dalam konsepsi berfikir masyarakat pada masa pra sejarah, makhluk-makhluk halus adalah raja atau penguasa di wilayahnya masing-masing. Mereka telah tinggal di tempat itu jauh sebelum datangnya manusia. Mereka tidak bisa di lawan dengan kekerasan, karena mereka memiliki kesaktian yang jauh melebihi manusia. Salah satu cara agar mereka tidak mengganggu manusia adalah dengan mengadakan upacara-upacara ritual khusus melalui pemberian sesajen.

Dinamisme

Sarkofagus di Temang Dongan, Lopok

Sarkofagus di Temang Dongan, Lopok

Dalam faham dinamisme, jiwa atau roh tidak hanya dimiliki oleh makhluk hidup, tapi juga terdapat pada benda-benda mati. Adanya kepercayaan ini akhirnya melahirkan bentuk-bentuk pemujaan terhadap batu, gunung, senjata, dsb.Ketika gunung meletus, masyarakat meyakini hal itu sebagai akibat dari marahnya roh leluhur, sehingga merekapun kemudian membuat upacara-upacara ritual khusus dalam bentuk pemberian tumbal atau persembahan. 

Sistem kepercayaan ini semakin berkembang ketika masyarakat mulai mengenal mantra sebagai salah satu media yang digunakan dalam berhubungan dengan alam roh, bahkan mantra dianggap memiliki kekuatan tersendiri karena mampu menjadikan sebuah benda seperti tombak atau tongkat memiliki tuah atau kesaktian.Mantra merupakan salah satu bentuk bahasa primitif yang memiliki kekuatan supra natural yang mampu menembus ruang dan waktu. Mantra diyakini oleh masyarakat sebagai ”jalan tol” dalam berhubungan dengan alam gaib. Fungsinya yang multi dimensional membuat mantra memiliki kedudukan yang penting dalam setiap upacara ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat pada zaman pra sejarah. 

Lewat mantra para syawan atau sandro menyampaikan harapan-harapan masyarakat kepada para roh leluhur, baik yang berkaitan dengan pertanian, perburuan, dsb. Pada masyarakat Sumbawa hingga saat ini, kepercayaan dinamisme masih terus berkembang namun dengan ”wajah” yang berbeda. Mantra tetap digunakan sebagai bagian dari tradisi, dan masyarakat tidak lagi menganggap sebuah benda pusaka murni memiliki tuah, tapi disebabkan karena adanya kekuasaan Tuhan yang menjadikan sebuah benda memiliki kesaktian. Namun demikian, dikalangan tertentu, masih banyak yang melakukan upacara ritual khusus terhadap benda-benda pusaka mereka.

Di Sumbawa, selain benda-benda pusaka kesultanan yang saat ini banyak tersimpan di Bala Kuning, juga terdapat barang-barang pusaka lainnya yang dimiliki oleh individu masyarakat, yang terkenal adalah ; Keris Samba, Tear (Tombak) Teman Tampir, Tear Brang Bayan, dan sebuah rompi sakti bernama Paruma Ero. Selain itu, juga terdapat nama-nama lainnya seperti Pecunang, senjata peninggalan Lalu Anggawasita dan Undru, dll.  

Totemisme

Motif Buaya di Sarkofagus Ai Renung, Batu Tering

Motif Buaya di Sarkofagus Ai Renung, Batu Tering

Totemisme merupakan suatu bentuk kepercayaan kepada binatang tertentu yang dinggap memiliki kekuatan. Di Sumbawa, sistem kepercayaan ini telah berkembang  sejak masa pra sejarah. Dalam sarkofagus yang ditemukan di Ai Renung, salah satu simbol yang digunakan adalah buaya yang digunakan sebagai media penghubung ke alam roh. Digunakannya simbol ini karena buaya dianggap mampu hidup di 2 (dua) dunia.

Dalam konteks kekinian, sebagian masyarakat Sumbawa masih mempercayai bila suara tokek dapat membenarkan perkataan sesesorang, atau bila bertemu dengan capung (keludu) dapat mendatangkan kesialan.     

Agama Kafitayan

Agama kafitayan merupakan agama pribumi nusantara yang hidup jauh sebelum berkembangnya Hindu di Indonesia sebagai perkembangan berikutnya dari kepercayaan animisme. Dalam buku Peta Walisongo karangan Agus Sunyoto, dijelaskan bahwa agama kafitayan merupakan agama yang sudah mengenal Tuhan Yang Esa sebagai simbol dari agama tauhid yang bernama Sang Hyang Taya yang berarti kosong atau hampa. Taya sendiri berarti Yang Absolut atau Tunggal. Kekuatan Sang Hyang Taya ini diimplementasikan dalam bentuk Tu atau To yang bermakna gaib, sehingga lahir istilah watu, batu, dsb. Bagi orang-orang yang telah mampu menguasai kekuatan Sang Hyang Taya di sebut dengan Ratu atau Datu

(Di Sumbawa, Datu merupakan gelar yang dinisbatkan kepada putera raja atau pemimpin/kepala suku. Gelar ini bukan berasal dari pengaruh Gowa, karena di Kerajaan Gowa tidak dikenal istilah Datu tapi Daeng atau KeraEng)

Dalam diri Sang Hyang Taya terdapat 2 (dua) sifat yang berbeda yaitu sifat Tu yang baik, yang mendatangkan  kebaikan, kemuliaan, kemakmuran dan keselamatan kepada manusia. Tu yang bersifat baik ini disebut dengan Tu-han, sedang yang bersifat kejahatan disebut han-Tu.

Masyarakat penganut Kafitayan meyakini bahwa sifat ketuhanan Sang Hyang Taya bersemayam dalam benda-benda yang memiliki keterkaitan dengan nama-nama yang didalamnya terdapat kata Tu dan To, seperti ; Wa-Tu (batu), Tu-gu, Tu-lang, Tu-nda (punden berundak-undak), To-peng,dsb. Dan dalam praktek pemujaannya, penganut Kafitayan menyediakan sesaji berupa Tu-mpeng, Tu-ak, dll. Sedangkan untuk keperluan khusus yang bersifat negatif seperti Tu-ju (tenung) atau untuk menetralisir kekuatan jahat, penganut Kafitayan melakukan persembahan dalam bentuk Tu-mbal.

dalam agama Kafitayan, praktek ibadah yang dilakukan oleh kalangan awam kepada Sang Hyang Taya dilakukan melalui sarana peribadatan, sedangkan untuk kalangan ”ulama-ulama sufi”nya yang telah mencapai tingkatan tinggi langsung berhubungan dengan Sang Hyang Taya, diawali dengan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap Tu-tuk (lubang) sambil mengangkat kedua tangan dengan maksud menghadirkan Sang Hyang Taya di dalam Tu-tud (hati).

Tidak diketahui bagaimana perkembangan agama ini di Sumbawa, tapi diperkirakan dimulai pada masa megalitikum, sesuai dengan hasil penemuan terhadap beberapa benda pra sejarah. Bila menelusuri sejarah latar belakang lahirnya nama-nama desa maupun kecamatan di Kabupaten Sumbawa terutama terhadap toponimi nama-nama desa maupun kecamatan yang diawali dengan kata batu seperti Batu Tering, Batu Dulang, Batu Lanteh, Batu Rotok, Batu Mega maupun Batu Bulan, kemungkinan besar ada kaitannya dengan pemujaan terhadap batu yang dilakukan oleh masyarakat pada jaman dulu. Banyaknya nama desa atau kecamatan di Sumbawa yang dimulai dengan kata ”batu” ini mengindikasikan bila agama ini pernah berkembang di Sumbawa.

SISTEM SOSIAL KEMASYARAKATAN

Sistem sosial kemasyarakatan pada masa pra sejarah merupakan sistem sosial yang dibentuk berdasarkan karakter masyarakat yang berkembang pada saat itu. Masa ini dapat juga disebut dengan masa berkuasanya suku-suku.

Dalam buku Karakter Kepemimpinan dalam Adat dan Rappang Tana Samawa karangan Aries Zulkarnaen menyebutkan bahwa dulunya di Sumbawa terdapat 18 suku yang tersebar di seluruh kabupaten Sumbawa termasuk KSB. Pada masa itu, belum ada hukum yang mampu mengatur kehidupan masyarakat secara menyeluruh, sehingga kehidupan yang berkembang adalah kehidupan yang liar dan keras. Diantara suku yang satu dengan suku yang lainnya seringkali terjadi konflik, yang ujung-ujungnya berakhir dengan peperangan. Dalam kondisi seperti itu, maka hukum yang berlaku adalah hukum rimba, siapa yang kuat, dialah yang menang.

Dari beberapa bukti sejarah yang pernah ditemukan, terdapat 2 (dua) peninggalan masyarakat pada masa-masa akhir pra sejarah, yaitu lembah atau bukit yang disebut dengan “saung tau”. Bila diartikan secara harfiah saung berarti mengadu sedangkan tau berarti orang atau masyarakat. Hal ini berarti bahwa dulunya di tempat itu pernah digunakan untuk mengadu orang-orang kuat dan sakti atau “tau karong”. Cara mengadu tau-tau karong tersebut dengan membiarkan mereka berkelahi sambil berayun pada sulur pohon.

Pertandingan mengadu kesaktian pada jaman dahulu merupakan suatu yang lumrah terjadi, bahkan menjadi bahan tontonan. Seperti pada jaman Romawi, bagaimana para gladiator dilepas begitu saja ditengah lapangan tertutup untuk diadu dengan binatang buas, atau kisah tentang suku-suku di Mongol yang tiada henti-hentinya berperang, sampai munculnya tokoh pemersatu mereka, yaitu Jengis Khan. Pertarungan-pertarungan seperti itu adalah warna kehidupan pada masa itu, sesuai dengan karakter mereka yang ”liar” dan keras. Bila kembali ke masa kebudayaan perunggu (dong son) di Sumbawa, salah satu fungsi nekara yang ditemukan di Seteluk, KSB adalah sebagai genderang perang, artinya bahwa peperangan sudah terjadi sejak zaman pra sejarah bahkan terus berlanjut sampai sekarang.  Sedangkan di tempat yang lain, juga ditemukan batu “pemantat”. Seorang pemimpin yang telah terpilih harus rela di “bantat” atau dikebiri. Pengkebirian dimaksudkan agar sang pemimpin tidak lagi memiliki nafsu seksual, sehingga dapat melayani rakyatnya dengan baik.

SISTEM MATA PENCAHARIAN

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, salah satu cara yang digunakan oleh masyarakat Sumbawa pada jaman dulu adalah berburu. Kalau pada jaman sekarang tradisi berburu ini di sebut dengan nganyang dan maen asu. Nganyang  merupakan sebuah tradisi berburu masal dengan menggunakan asu (anjing) sebagai hewan pemburu. Sedangkan maen asu merupakan gabungan antara berburu dan seni ketangkasan. Dilihat dari bentuknya, tradisi ini bukanlah berasal dari masa Islam, karena asu menurut pandangan Islam adalah najis (haram), begitu pula dengan masa Hindu. Tradisi ini terbentuk secara alami sebagai konsekwensi dari tuntutan kebutuhan hidup masyarakat. Tradisi berburu telah dimulai dari masa pra sejarah. Dari penemuan kapak perimbas di Batu Tering yang ditemukan bersamaan dengan sarkofagus dapat diketahui tentang cara berburu manusia purba Sumbawa. Kapak yang berasal dari masa megalitikum ini terbuat dari batu cadas yang ujungnya runcing. Kapak ini digunakan untuk mengumpulkan makanan.

Untuk saat ini, di Kabupaten Sumbawa tradisi nganyang masih terus dipertahankan, sedangkan maen asu hanya terdapat di Kecamatan Ropang.


Sumber : SAKAYALOWAS
***Yang mengcopy Paste tulisan ini harap mencantumkan Sumbernya guna kita menghargai Tulisan dan karya seseorang agar kita anda tidak dikatakan PLAGIAT
Pos ini dipublikasikan di Wajah Sumbawa Pada Masa Pra Islam dan tag . Tandai permalink.

sapalah kami dengan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s