SEJARAH SINGKAT MASUKNYA HINDU KE SUMBAWA

Kuburan Wakil Gajah Mada yang tewas di Seran

Kuburan Wakil Gajah Mada yang tewas di Seran

Masuknya agama hindu ke Sumbawa merupakan konsekwensi logis dari menyebarnya agama ini ke seluruh nusantara baik yang dilakukan melalui penaklukkan maupun cara damai. Di Sumbawa, agama Hindu berkembang secara efektif selama 4 (empat) abad, yaitu dari abad 14 s/d 17. Dalam masa yang lumayan panjang ini, agama Hindu telah memberikan warna tersendiri dalam perjalanan sejarah Sumbawa.

Sejarah Hindu di Sumbawa tidak terlepas dari masuknya pengaruh Hindu ke nusantara sekitar abad ke 5 M yang ditandai dengan berdirinya Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Agama ini kemudian terus berkembang sehingga melahirkan kerajaan-kerajaan hindu lainnya seperti Kerajaan Mataram Kuno, Singasari, Kediri dan puncaknya pada masa Kerajaan Majapahit (1293 – 1518), dimana agama ini tersebar secara meluas ke seluruh nusantara. Pasca runtuhnya Majapahit tahun 1518, agama Hindu digantikan oleh agama Islam dan Kristen.

Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama Hindu di Indonesia berada di Pulau Bali, selain itu juga terdapat di  pulau Jawa, Lombok Barat, Kalimantan (Suku Dayak Kaharingan), dan Sulawesi (Toraja dan Bugis – Sidrap), dll.. Sedangkan di Sumbawa, agama Hindu diperkirakan masuk melalui 5 (lima) tahap, yaitu ;

Tahap pertama diperkirakan sekitar abad ke 9, di bawa oleh para pedagang dari Kerajaan Bali Kuno.

Keberadaan Kerajaan Mataram Hindu di Jawa pada abad ke 7 telah mempengaruhi daerah-daerah sekitarnya terutama Bali sehingga pada abad ke 8 berdiri Kerajaan Singamandawa di Bali. Kerajaan ini kemudian mempengaruhi Lombok dan Sumbawa melalui informasi yang di bawa oleh para pedagang, sehingga sekitar abad ke 9 (Dalam sebuah buku peninggalan Belanda disebutkan bahwa pada abad ke 9), Sumbawa telah memiliki seorang raja yang besar yang bernama Batara Sukin.di Sumbawa pun berdiri kerajaan pertama yaitu Kerajaan Ai Renung di Batu Tering Moyo Hulu, dilanjutkan dengan Kerajaan Awan Kuning, di Sampar Semulan, Moyo Hulu. Kedua kerajaan ini merupakan kerajaan tertua di Sumbawa. Pada awalnya kerajaan-kerajaan ini hanya berbentuk suku-suku yang di pimpin oleh kepala suku. Gelar Raja-Raja Sumbawa pada saat itu adalah Batara mengikuti gelar raja-raja Kerajaan Singamandawa. Meskipun telah berdiri kerajaan, tapi sistem kepercayaan yang berkembang masih animisme dan dinamisme.

Tahap kedua tahun 1292 dibawa oleh pasukan Kertanegara yang melarikan diri ke Sumbawa ketika kalah dalam pertempuran melawan pasukan Jayakatwang

Kertanegara merupakan raja terakhir dan terbesar dari kerajaan Singasari. Pada masa jayanya, Kertanegara mampu menaklukkan Pahang (Malaya), Tanjung Pura (Kalimantan), Melayu pada tahun 1275 dan 1286 melalui sebuah ekspedisi yang disebut dengan ekspedisi Pamalayu, dan Bali pada tahun 1284. Kehancuran Singasari dan kematian Kertanegara terjadi pada tahun 1292, ketika Raja Gelang Gelang yaitu Jayakatwang menyerbu Singasari. Pada penyerbuan itu, Jayakatwang berhasil membunuh Kertanegara sekaligus meruntuhkan kerajaan Singasari. Pasukan Kertanegara yang kalah perang, ada yang kemudian mengikuti pelarian Raden Wijaya, ada yang melarikan diri ke Bali, tapi ada juga yang terus ke Sumbawa. Di Sumbawa, mereka menetap sementara di desa Singasari (Desa ini sekarang telah berubah nama menjadi desa Singa, terletak di Kecamatan Brang Rea), KSB.

Pasukan Singasari yang masuk ke Sumbawa hanyalah prajurit biasa, bukan berasal dari kasta brahmana (pendeta). Mereka tidak memiliki kapasitas untuk menyebarkan agama Hindu, karena kedatangan mereka ke Sumbawa lebih kepada upaya untuk melarikan diri sejauh mungkin dari kejaran pasukan Jayakatwang.

Tahap ketiga antara tahun 1331 – 1364([2]) dibawa oleh Raja Dewa Awan Kuning dari hasil kunjungannya ke Majapahit

Raja Dewa Awan Kuning merupakan raja kerajaan Sampar Samulan (Sampai saat ini, penulis belum meyakini keberadaan Dinasti Dewa Awan Kuning seperti yang dijelaskan oleh Lalu Manca dalam bukunya Sumbawa Pada Masa Dulu, karena dinasti ini tidak memiliki alur sejarah yang jelas. Penulis lebih memilih kalau seandainya keberadaan dinasti hindu di Sumbawa disematkan pada 3 (tiga) kerajaan Hindu yang ditaklukkan oleh Majapahit, yaitu Utan Kadali, Taliwang dan Seran) yang terletak di Moyo Hulu.Setelah menghadap Raja Majapahit yang didampingi oleh Patih Gajah Mada Setelah menghadap Raja Majapahit yang didampingi oleh Patih Gajah Mada[1] dan Aria Damar, Raja Dewa Awan Kuning diperkenankan untuk tinggal beberapa tahun di istana sambil mempelajari bahasa Sansekerta dan segala sesuatu yang berkaitan dengan Majapahit. Ketika pulang ke Sumbawa, Raja Dewa Awan Kuning dihadiahkan 4 (empat) buah kitab oleh Raja Majapahit sebagai pedoman pelaksanaan ajaran Hindu di Sumbawa. Keempat kitab itu adalah ; 1) Palakera, 2) Cangkul Muda, 3) Raja Niti, dan 4) Raja Kutara. Sekembalinya dari Majapahit, pekerjaan pertama yang dilakukan adalah merombak secara total struktur kerajaannya, dan secara perlahan-lahan mulai memperkenalkan ajaran Hindu kepada masyarakatnya.
Tahap keempat tahun 1357 melalui penaklukkan Kerajaan Majapahit ke Pulau Sumbawa
Tahap selanjutnya yaitu melalui penaklukkan yang dilakukan oleh Majapahit ke Pulau Sumbawa tahun 1357. Penaklukkan ini merupakan tahap akhir dari penaklukkan Gajah Mada ke seluruh nusantara.Dalam buku Tafsir Sejarah Negarakertagama (dalam pupuh 14 dan 15) karangan Prof. Dr. Slamet Muljana menerangkan bahwa penaklukan kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa oleh Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Mpu Nala berlangsung pada abad ke 14, tepatnya tahun 1357 yang dimulai dengan Kerajaan Dompo (Dompu), lalu Sapi (Sape),    Gunung Api    (Tambora),     Kerajaan Taliwung (Taliwang/KSB), Kerajaan Seran (Seteluk/KSB) dan Kerajaan Hutan Kadali (Kec. Utan).penaklukan ini hanya berlangsung di wilayah Sumbawa bagian barat dan timur, tidak sampai menyentuh kerajaan-kerajaan yang berada di Sumbawa bagian selatan. Hal ini disebabkan karena kerajaan-kerajaan tersebut  tidak berada dalam jalur penaklukkan Majapahit.
Penaklukkan dilakukan pada tahun ke 7 masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, dan dari hasil penaklukkan itu kerajaan Utan Kadali, Taliwang, Seran dan termasuk Kerajaan Tangko Empang[3] kemudian berubah menjadi hindu.
Tahap kelima, pada abad ke 15 di bawa masuk oleh Kerajaan Gelgel atau Karangasem Bali
Kerajaan Gelgel Bali merupakan kerajaan hindu terbesar pasca runtuhnya kerajaan Majapahit. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 1320 s/d akhir abad ke 17, dan mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Dalem Batur Enggong yang memerintah dari tahun 1460 s/d 1550.Penguasaan Gelgel atas Sumbawa berbeda dengan penguasaan terhadap Lombok, karena Lombok dikuasai sepenuhnya melalui penaklukkan, sehingga Raja Bali saat itu menempatkan wakilnya menjadi Raja Lombok. Penguasaan atas Lombok ini berlangsung selama berabad-abad, bahkan setelah runtuhnya Kerajaan Gelgel pada akhir abad ke 17, penaklukkan dilanjutkan oleh Kerajaan Karangasem Bali. Sedangkan penguasaan atas Sumbawa lebih disebabkan karena sebelumnya telah terjalin hubungan persaudaraan antara Raja Sumbawa dengan Raja Bali.
Dari cerita yang berkembang, bahwa sejak zaman kerajaan Gelgel yaitu pada abad ke 15, antara raja-raja di Bali dan Sumbawa memiliki hubungan persaudaraan. Hubungan itu terus berlanjut pada masa Kerajaan Karangasem yaitu dengan terjalinnya perkawinan antara Datu Patene (Daeng Anggawasita) dengan I Gusti Ayu Nyoman Rai, Puteri I Gusti Anglurah Ketut Karang, Raja Karangasem Bali. Dari hasil perkawinan ini, kemudian menghasilkan beberapa keturunan diantaranya adalah bangsawan-bangsawan Empang.  Oleh Raja Sumbawa saat itu, keluarga I Gusti Ayu Nyoman Rai yang masuk ke Sumbawa diberikan hadiah tanah di desa Klungkung dan Batu Bulan. Sedangkan dari cerita yang lain, bahwa pada abad ke 19, salah seorang bangsawan Sumbawa pernah terdampar di perairan Bali, bangsawan ini kemudian diselamatkan oleh keluarga Raja Puri Pemecutan Denpasar[4].


[4]Lima hari sebelum Upacara Penobatan Sultan Muhammad Kaharuddin IV, masyarakat Hindu Denpasar melaksanakan upacara khusus yaitu upacara Metirta Agung yang dilaksanakan di Pura Dalam Samawa yang dipimpin langsung oleh Raja Denpasar.

 


[3]Dalam proses penaklukkan menuju Dompu, tentara Majapahit melewati berbagai daerah seperti Lape dan Plampang. Ketika tiba Kecamatan Empang, pimpinan pasukan Majapahit yaitu Mpu Nala yang mengendarai pedati yang dibawa oleh 2 sampai 4 ekor kuda singgah di Kerajaan Tangko Empang. Kerajaan ini tidak jadi diserang karena dari hasil pertemuan antara Raja Empang dengan Mpu Nala, Raja Empang menyatakan takluk dengan Majapahit, kemudian oleh Mpu Nala, kerajaan ini dipersatukan dengan kerajaan Dompu. Kedatangan Mpu Nala yang menggunakan pedati itu kemudian berkembang menjadi cerita tentang kedatangan bangsawan Majapahit ke Empang dengan mengendarai pedati ngibar (pedati terbang). Setelah penaklukkan, oleh Majapahit, Kerajaan Tangko Empang dimasukkan kedalam wilayah Kerajaan Dompu. Di Empang saat ini, terdapat sebuah kampung yang bernama Majapahit.

 


[1]Di Sumbawa, khususnya di Kecamatan Utan terdapat sebuah tutur yang berkembang secara turun temurun, bahwa Patih Gajah Mada yang sangat terkenal itu berasal dari Kerajaan Utan Kadali.Bila mengacu pada buku Lalu Manca yang mengatakan bahwa antara Raja Majapahit dengan Raja-Raja di Sumbawa memiliki hubungan kekerabatan mungkin saja hal itu ada benarnya. Dalam tutur itu diceritakan bahwa sekitar abad ke 13, dua orang pemuda dari Kerajaan Utan Kadali pergi merantau untuk mencari pengalaman. Daerah yang menjadi tujuan mereka adalah Majapahit. Setelah tiba di Majapahit, kedua-duanya lalu melamar menjadi pasukan bhayangkara.   

 


[2]Tahun keberangkatan Dewa Awan Kuning ke Majapahit tidak diketahui dengan pasti, apakah pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi (Sri Gitarja)tahun 1328 – 1350 atau Raja Hayam Wuruk tahun 1350 – 1386.

Sumber : SAKAYALOWAS

***Yang mengcopy Paste tulisan ini harap mencantumkan Sumbernya guna kita menghargai Tulisan dan karya seseorang agar anda tidak dikatakan PLAGIAT

Pos ini dipublikasikan di SEJARAH SINGKAT MASUKNYA HINDU KE SUMBAWA dan tag . Tandai permalink.

sapalah kami dengan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s