MANFAATKAN WAKTU DENGAN BAIK

MANFAATKAN WAKTU DENGAN BAIK

Sadarkah kita betapa pentingnya waktu dalam kehidupan ini? Apakah waktu yang diberikan Allah telah kita manfaatkan dengan sebaik baiknya, dan kita syukuri sebagai nikmat Allah yang takterhingga? Begitu pentingnya waktu, di dalam al-Qur’an terdapat empat surat yang diberi nama oleh Allah dengan nama waktu, yaitu:
1. surat al-Fajr (waktu fajar) surat ke 89,
2. surat adh-Dhuha (waktu Dhuha) surat ke 93,
3. surat al-‘Ashr (waktu ‘Ashr) surat ke 103, dan
4. Surat al-Lail (waktu malam) surta ke 92.
Hal yang menarik untuk dicermati dari keempat waktu yang disebut oleh Allah SWT tersebut adalah, bahwa ada pesan Allah bagi manusia terkait konteks pembicaraan masing-masing surat tersebut.

PERTAMA, ketika Allah bersumpah dengan al-Fajr (waktu fajar), Allah mengaitkan pesannya dengan AKAL DAN PROSES BERPIKIR. Seperti terlihat dalam surat al-Fajr : 1-5 berikut;
وَالْفَجْرِ(1)وَلَيَالٍ عَشْرٍ(2)وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ(3)وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ(4)هَلْ فِي ذَلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ(5)
Artinya: “Demi fajar (1). Dan malam yang sepuluh (2). Dan yang genap dan yang ganjil (3). Dan malam bila berlalu (4). Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal (5).”
Hal itu memberikan sebuah isyarat, bahwa waktu pagi adalah waktu yang semestinya dipergunakan manusia untuk berfikir, melakukan persiapan, membuat rencana sebelum terjun melakukan suatu pekerjaan.
Waktu pagi juga berarti waktu kecil dan waktu muda manusia, yang semestinya dipergunakan untuk menimba ilmu, mencari bekal dan persiapan untuk menghadapi perjuangan hidup di kala dewasanya.

KEDUA, ketika Allah bersumpah dengan waktu Dhuha, maka pembicaraan Allah terkait dengan AMAL DAN TUNTUTAN AGAR MANUSIA BERBUAT. Sebab, Dhuha sendiri berarti cahaya yang sangat ditunggu semua makhluk, karena mendatangkan kebaikan, baik bagi manusia, hewan maupan tumbuhan.
Tuntutan berbuat itu seperti disebutkan dalam ayat 9-11
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ(9)وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ(10) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ(11)
Artinya: “Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang (9). Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya (10). Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) (11).”
Hal itu memberikan isyarat kepada manusia, bahwa WAKTU DHUHA ADALAH WAKTU UNTUK BERBUAT DAN BERBAKTI KEPADA ORANG LAIN DAN LINGKUNGAN. Tentu saja, yang bisa berbuat dan mendatangkan kebaikan kepada orang lain adalah orang yang di waktu paginya telah mencari bekal dan memiliki perencanaan. Bagaimana mungkin seseorang akan menjadi manusia yang berguna bagi orang lain, jika untuk mendatangkan kebaikan terhadap diri sendiri saja dia tidak mampu.
Begitu juga, sudah menjadi sunnatullah bahwa terhadap yang pergi mencari bekal, ilmu, persiapan di waktu pagi, tentu semua orang akan menunggu kehadirannya membawa cahaya perubahan. Alangkah kecewanya orang lain, jika selesai pendidikan misalnya, meraih gelar sarjana, namun tidak mampu berbuat dan mendatangkan kebaikan di tengah masyarakat. Sama halnya, kekecewaan ketika menunggu cahaya pagi, namun matahari yang ditunggu diliputi awan gelap.

KETIGA, ketika Allah bersumpah dengan al-‘Ashr (waktu sore), Allah mengaitkan pembicaran-Nya dengan KERUGIAN DAN PENYESALAN MANUSIA. Seperti terlihat dalam ayat 1-2;
وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)
Artinya: “Demi masa (1). Sesusngguhnya semua mansuai berada di dalam kerugian (2).”
Ayat tersebut memberikan isyarat, bahwa yang tidak melakukan persiapan di pagi hari, yang tidak belajar dan mempergunakan kemampuan akalnya di waktu kecil, yang tidak membuat perancanaan di waktu muda dan seterusnya, maka di waktu tua dia akan menyesal dan menjadi orang yang merugi.
Memang kerugian baru dirasakan seseorang, ketika sudah memasuki hari senja. Seperti seorang pedagang, untung dan rugi barulah dihitung ketika hari sudah sore dan matahari menjelang terbenam. Akan tetapi, ketika itu kondisi sudah tidak bisa lagi diperbaiki, selain penyesalan dan meratapi diri ketika dihadapkan pada kerugian, akibat kelalaian sendiri.

KEEMPAT, ketika Allah bersumpah dengan waktu malam (al-Lail), Allah SWT mengaitkan pembicaraan-Nya dengan dua kondisi; Pertama, KESUSAHAN DAN KESULITAN (al-‘usr, ayat 10), serta NERAKA YANG MENYALA (nâran talazhzhâ, ayat 14). Kedua, KEMUDAHAN DAN KETENANGAN (al-yusr, ayat 7), serta PUNCAK KEBAHAGIAAN (ridha Allah, ayat 21).
Hal itu memberikan isyarat, bahwa yang melakukan persiapan di waktu pagi, yang belajar di waktu kecil, yang berencana di waktu muda, dia akan mempu berbuat yang terbaik bagi diri dan orang lain serta menjadi kebanggaan bagi manusia dan lingkungannya. Akhirnya, dia akan menjadi orang yang menang dan beruntung dan di akhir hidupnya dia akan memperoleh puncak kebahagiaan. Jika dia tidur, maka dia akan tidur dengan pulas dan bahagia. Jika dia mati, dia akan mati dengan penuh ketenagan dan kebahagiaan.
Tentu saja, berbeda halnya dengan orang yang tidak melakukan persiapan di pagi hari, tidak belajar di waktu kecil, tidak punya perencanaan di waktu muda, dia akan menjadi makhluk yang tidak berguna, baik bagi dirinya maupuan bagi manusia lain dan lingkungan. Di hari tua, dia akan menjadi orang yang menyesal dan merugi serta akan meratapi diri sendiri. Di waktu malam datang, dia akan berada dalam kesulitan hidup, bahkan untuk tidurpun teramat susah baginya. Jika dia mati, maka ketika kematiannya datang, dia akan berada pada puncak penyesalan.

Allahuakbar, semoga kita menjadi hamba hamba Allah yang pandai bersyukur dan tidak menyia nyiakan waktu.

[ Salam ukhuwah, BADRUL MUNIR ]

Pos ini dipublikasikan di TAUSYIAH RAMADHAN dan tag . Tandai permalink.

sapalah kami dengan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s