PRINSIP KOMUNIKASI YANG ISLAMI

 

Bismillah, the first verse of the first "...

Bismillah, the first verse of the first “sura” of the Qur’an, bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi. (Photo credit: Wikipedia)

 

Oleh : Ir.H.Badrul Munir MM

 

Imam Ghozali dalam suatu dakwahnya kepada murid-muridnya mengingatkan bahwa yang paling tajam dalam kehidupan manusia ini bukanlah tajamnya pedang yang terhunus atau pisau….tapi yang paling tajam dalam kehidupan ini adalah lidah manusia. Karena lidahlah maka seseorang bisa membunuh yang lain. Karena lidahlan seseorang bisa bercerai dengan pasangannya, bahkan karena lidah pula banyak orang yang dihinakan oleh Allah Swt.

Sebagai hamba Allah yang berTAWQA, maka hendaklah setiap omongan yang keluar dari mulut ini selalu mencakup ke 6 kriteria ucapan-ucapan yang diridhai Allah Swt.
Nabi Muhammad bersabda, Barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari Akhir (Qiamat) maka hendaklah ia berbicara dengan perkataan yang baik atau diam (HR. Bukhari-Muslim). Berikut ini 6 prinsip komunikasi yang Islami:

1. QAULAN SADIDA (perkataan yang jujur)

Qaulan Sadida artinya pembicaraan yang benar, jujur, lurus, tidak bohong, dan tidak berbeli-belit.

Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (Al-Ahzab[33]: ayat 70)

Tidak Bohong

Arti kata dari qaulan sadida adalah tidak bohong. Nabi Muhammad saw bersabda,

“Jauhi bohong, karena bohong membawa kamu pada dosa, dan dosa membawa kamu pada neraka. Lazimkanlah berkata jujur, karena jujur membawa kamu pada kebajikan, dan kebajikan membawa kamu pada surga”.

Al-Qur’an menyuruh kita selalu berkata benar, supaya kita tidak meninggalkan keturunan yang lemah. Keturunan yang tidak mampu memberi kemaslahatan bagi yang lainnya dan jauh dari ridha Allah.

Bahaya Bohong

Nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa orang beriman tidak akan berdusta. Dalam perkembangan sejarah, umat Islam sering dirugikan karena berita-berita dusta. Yang paling parah ketika bohong memasuki teks-teks suci yang menjadi rujukan. Kebohongan tidak berhasil memasuki Al-Qur’an karena keaslian Al-Qur’an dijamin oleh Allah hingga hari Qiamat.

2. QAULAN BALIGHA (perkataan yang menyentuh qalbu)

Kata baligh berarti fasih, jelas maknanya , menyentuh qalbu, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Oleh karena itu, prinsip qaulan baligha dapat diterjemahkan sebagai prinsip komunikasi yang efektif.

Sebagai seorang mubaligh, maka berdakwahlah dengan hati yang ikhlas, begitu juga jama’ahnya menerima pencerahan dengan ikhlas…insya Allah petunjuk Allah akan turun pada hamba-bambaNya yang ikhlas.

Allah berfirman:
…dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang menyentuh pada qalbu mereka.(An-Nisaa [4]: ayat 63)

3. QAULAN KARIMA (perkataan yang mulia)

Kata qaulan karima mengandung dua hal, yakni:

(1) berkenaan dengan tuntunan berakhlak kepada Allah,

(2) berkenaan dengan tuntunan berakhlak mulia kepada kedua orang tua. Tuntunan akhlak kepada kedua orang tua, antara lain: keharusan berbakti kepada orang tua, dan mengurus orang tua di saat mereka sudah usia lanjut ataupun saat sedang sakit. Jika seorang anak mengikuti perintah Allah ini, ia akan selamat di dunia maupun di akhirat.

Allah berfirman,
…maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al-Israa’ [17]: ayat 23)

4. QAULAN MA’RUFA (perkataan yang baik)

Betapa pentingnya berbicara dengan kata-kata yang baik dengan siapa pun, di mana pun, dan kapan pun, dengan sarat pembicaraannya itu akan mendatangkan pahala dan manfaat, baik bagi dirinya sebagai komunikator maupun bagi orang yang mendengarkan sebagai komunikan.

Allah berfirman:
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan perasaan si penerima.(Al-Baqarah [2]: ayat 263)

5. QAULAN LAYYINA (perkataan yang lembut)

Allah swt memerintahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun untuk mendakwahkan ayat-ayat Allah kepada Firaun dan kaumnya dengan bahasa yang lemah lembut, jauh dari perkataan kasar. Walaupun Firaun sebagai seorang Raja Mesir memiliki watak keras, sombong, dan menolak ayat-ayat Allah, bahkan menantang Allah dengan mengaku sebagai Tuhan.

Nabi Muhammad saw mencotohkan kepada kita bahwa beliau selalu berkata lemah lembut kepada siapa pun, baik kepada keluarganya, kepada kaum muslimin yang telah mengikuti nabi, maupun kepada manusia yang belum beriman.

Allah berfirman:
maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Tahaa[20]: ayat 44)

6. QAULAN MAYSURA (perkataan yang pantas /memberi harapan)

Salah satu prinsip komunikasi dalam Islam adalah setiap berkomunikasi harus bertujuan mendekatkan manusia dengan Tuhannya dan hamba-hambanya yang lain. Islam mengharamkan setiap komunikasi yang membuat manusia terpisah dari Tuhannya dan hamba-hambanya. Setiap komunikasi harus dihajatkan untuk mendekatkan pada pencapaian tujuan, bukan sebaliknya.

Seorang komunikator yang baik adalah komunikator yang mampu menampilkan dirinya sehingga disukai dan disenangi orang lain. Untuk bisa disenangi orang lain, ia harus memiliki sikap simpati dan empati.

Allah berfirman:
Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas (Al-Israa’[17]: ayat 28)

Demikian, semoga artikel singkat ini dapat bermanfaat.

[ disadur dari berbagai sumber mediaonline ]

 

Pos ini dipublikasikan di TAUSYIAH RAMADHAN dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

sapalah kami dengan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s