HIJRIYAH YANG TERLUPAKAN

Airmataku tak mampu kubendung , ketika pada malam terakhir menjelang detik-detik pergantian tahun 1428 H menuju ke detik pertama Tahun 1429 H. Di Masjid samping Rumahku (Masjid Darul Hikmah, Koda Permai) , Penulis melihat jamaah yang hadir tidak lebih banyak jumlahnya dari jumlah jari jemari tangan dan kakiku, mereka berkumpul untuk melaksanakan Gema Zikir dalam menyambut pergantian Tahun Hijriyah, Tahun Baru Islam. Lalu aku bertanya Kepada diriku sendiri sebagai ketua panitia penyelenggara dari Remaja Masjid,“Apakah sebanyak ini jumlah Umat Islam ? dimana mereka yang menyalakan lilin, bernyanyi berjubel semalam suntuk menyambut Tahun Baru Masehi dilapangan Besar, yang dipinggir pantai , Dimana?.aku tidak mampu menjawab. Seorang sahabat akrabku yang memahami persaanku pada saat itu,dia hanya mengangkat bahu, sambil berkata dan menepuk pundakku, “ inilah bentuk pengibirian Sejarah dan Budaya Islam oleh Generasinya sendiri”.
Ironis memang, tapi itulah fakta dari sebuah perjalanan sejarah yang telah diukir Rasulullah Muhammad Saw. Sudah ratusan abad bergulirnya sang waktu, Sejak Kekasih Allah itu Meninggalkan Mekkah Almukarram menuju Madinah, Sejak itulah awal kemenangan hakiki seorang hamba dalam mempertahankan cintanya kepada Allah Swt.Peristiwa itu seakan hilang dari ingatan kita kecuali dalam hati hambanya yang beriman.
Momentum Hijriyah tenggelam dalam kemunafikan jaman, seperti seonggok sejarah yang tak bermakna, jadi pengemas nafsu dunia yang penuh dengan keserakahan . Untung saja ada Airmata Orang-orang beriman yang menyiraminya setiap saat hingga merekah diserambi Rumah Allah Swt dalam Dunia fana yang penuh dengan euforia.
Penulis pikir bahwa sebenarnya momentum Hijriyah telah kehilangan pemaknaannya dari hati dan pikiran Umatnya sendiri ( islam ). Sebagai tolak ukur hal itu dapat dilihat pada setiap pergantian tahun, ketika memasuki pergantian tahun Hijriyah tidak se-euforia pergantian tahun selain Hijriyah padahal kalau kita Fikir Ummat islam dindonesi ini mayoritas dari umat lainnya yang memiliki tahun bukan Hijriyah jumlahnya minoritas tapi mengapa peringatan prosesi pergantian tahun Hijriyah begitu sepi ? Justru sebaliknya kitalah yang meramaikan peringatan pergantian tahun ummat lain sedangkan peringatan pergantian tahun tahun islam tidak pernah kita lakukan atau ummat lain ikut menyemarakkannya.
Jawabannya adalah karena kita sedang diseret oleh sebuah kekuatan besar arus Global. Kita sedang hidup dalam dunia tanpa batas, dunia yang tidak mempunyai sekat pembatas baik ruang maupun waktu.Kita akan digiring kepada agama dan budaya yang satu, mengapa tidak dan itu bukanlah hal yang mustahil karena kita dengan gampang dan mudah bisa melihat dan meniru budaya orang lain melalui media informasi yang ada didalam kamar tidur kita seperti : TV, Internet, Komputer, Alat radio dan lain-lain. Hal ini , kita sudah diperingatkanOleh Allah didalam Al Qur’an : “ Walantardho ankal yahuudu walan nasaara hattatattabiamillatahum” yang maksudnya orang-orang diluar Islam (musuh Islam) tidak akan ridho sebelum kita mengikuti apa yang mereka inginkan.
Tahun Hijriyah adalah pengkalenderan islam yang dilembagakan 17 tahun kemudian sejak peristiwa Hijrahnya Rasulullah Muhammad Saw dari mekkah kemadinah oleh Khalifah Umar Bin Khattab. Inilah bentuk pengagungan kaum muslimin terhadap peristiwa tersebut.
Menurut Buku Inseklopedi Islam halaman 111, perhitungan Kalender Tahun Hijrah didasarkan atas peredaran bulan Qamariah yang rata-rata satu tahunnya berlangsung selama 354 hari. Dalam Tahun Hijriyah terdiri dari 12 bulan dimana setiap bulannya mempunyai durasi yang berbeda-beda. Bulan pertama adalah Bulan Muharram (30 hari), Bulan Safar (29 hari), Bulan Rabiul awal (30 hari), Bulan Rabiul akhir (29 hari), Bulan Jumadil awal (30 Hari), bulan Jumadil akhir (29 hari), Bulan Rajab (30 hari), Bulan sya’ban (29 hari), bulan Ramadhan (29 hari), Bulan syawal (30 hari), bulan zulkaidah (29 hari), dan Bulan zulhijjah (30 hari). Karena itu , satu tahun kamariah lebih pendek 11 hari dibanding dengan satu tahun menurut perhitungan Matahari (syamsiah)
Meskipun awal Muharram dipandang sebagai permulaan tahun baru Hijriyah, tetapi permulaan hijrah Nabi Saw sendiri sesungguhnya jatuh pada tanggal 2 Rabiul awal 13 tahun kenabiannya atau 16 september 622 M, bukan pada awal Muharram yang pada saat itu jatuh pada tanggal 15 Juli 622 M. Antara permulaan hijrah Nabi Saw dengan permulaan kalender islam terdapat jarak sekitar 64 hari, dan antara keduannya terdapat bulan safar.
Itulah sekilas tentang pengkalenderan tahun hijriyah yang rasanya agak asing bagi kita umat islam karena tidak biasa kita gunakan, tapi walaupun demikian makna Hijriyah agar dapat menjadi momentum introspeksi diri umat islam baik dalam berhubungan dengan Allah Swt (hablumminallah) maupun dalam berhubungan dengan sesama Manusia (hablumminannas).
Hijrah dalam pengertian maknawiyah adalah meninggalkan atau berpaling atau menjauhi, dari hal-hal yang tidak diridhoi Allah, meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt menuju kepada hal-hal yang diredhoi dan diperintahkannya ( minazzulumaati ilannur ).
Inilah sebenarnya bentuk pemeliharaan cinta kita yang paling hakiki kepada Allah Swt.Semoga kita menjadi kekasih Allah Swt seperti Rasulnya…..amin wassalam….
Pos ini dipublikasikan di KUMPULAN ARTIKEL dan tag . Tandai permalink.

sapalah kami dengan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s