NAPI 973 HARI (MENGUAK KEHIDUPAN DIBALIK PENJARA)

“Angka 973 hari itu saya dapat dari  jumlah hari dalam rentang waktu sejak saya ditangkap 5 maret 2007 sampai hari pembebasan 31 oktober 2009. Mudah-mudahan tidak salah hitung “

Itulah yang  pertama ditulis BAHARMI dalam pengantar Bukunya yang ditulis setebal 176 Halaman.Apa yang menarik dari buku ini ? Tentunya banyak sekali karena isi dari buku inilah bukanlah tulisan fiksi melainkan aktualisasi dari apa yang dialami,dilihat dan didengar oleh penulisnya selama ia mendekam dalam penjara. Mungkin tidak banyak orang yang bisa melakukannya kebetulan saja BAHARMI yang selama ini nota bene sebagai seorang Wartawan senior yang malang melintang didunia jurnalis mengalami sendiri sehingga dengan mudah dia merekam apa saja yang dialaminya selama ditahan di Rumah Tahanan Kelas 1 Surabaya yang Populer disebut Rutan Medaeng..Sisi lain yang menarik dari buku ini adalah menguatkan realitas tentang kotornya praktik penegakan hokum dinegeri ini, mungkin masih segar bdalam ingatan kita ketika SATGAS Pemberantasan Korupsi yang dibentuk Presiden memergok ARTALITA seorang Narapidana Kasus Suap membangun Istana didalam penjara ternyata bukan hanya terjadi dipenjara dimana ARTALITA ditahan tapi juga terjadi di LP yang lain bahkan mungkin juga diseluruh Indonesia.Sehingga tidak salah kalau BAHARMI mengatakan dalam bukunya : “Buku ini hanyalah sebuah testimony tentang hitam putihnya kehidupan didalam penjara,itupun hanya sedikit dari banyak hal yang saya lihat ,saya dengar dan saya alami”

Kalau dilihat secara sepintas pada Cover buku ini,pembaca akan mengira bahwa penulisnya adalah Roy Marten karena Cover depannya fhoto Roy Marten sebagai ilustrasinya. Kenapa ? Karena Roy Marten adalah bagian dari isi faktual buku ini. Ternyata sang penulis pernah bersama Roy menjalani hari – harinya di Rutan Medaeng Surabaya. Mungkin saja penulis bermaksud menarik minat pembaca tapi sebenarnya semakin menguatkan buku ini jauh dari mengada – ada.

Didalam Pengantar Bukunya BAHARMI mengatakan : “ Kalau tidak punya uang jangan masuk Penjara” sama artinya dengan kalimat “dipenjara tidak ada yang Gratis”. Kenapa Demikian ??? Karena untuk mendapatkan hak, seorang napi harus dengan uang. Harus beli. Untuk mendapatkan kenyamanan dan keamanan juga pakai uang.Apa-apa uang,uang dan uang.Tahanan dan napi sungguh tidak berdaya dalam cengkeraman “gurita” penguasa penjara.

Kamar dipenjara tidak ada yang Gratis paling murah Rp.250 ribu dan yang termahal Rp.10 Juta. Kalau tidak punya uang ? Jadi gelandangan tidur diemperan. Ada juga istilah ngedek. Kalau tidak mau pindah ke LP yang lain, harus ngedek setiap bulan Rp.300 ribu,Rp.750 ribu dan bisa sampai satu Juta perbulan, tergantung jenis kasus.

Pada halaman 35 BAHARMI menuliskan, Ditahanan Polwiltabes ada istilah “tamasa”  yaitu berjalan – jalan ke lantai 2 tempat tahan wanita kita bisa berkencan walau harus bayar Rp.50 Ribu. Kalau sudah terjalin hubungan, ada kata sepakat saling mencintai bisa melangkah ke istilah 86 ? yaitu pertemuan tuntas tidak hanya bisa pegang tangan, ciuman bibir beberapa menit. Berapa tarifnya ? Rp.200 Ribu, kalau tidak punya uang bias nawar jadi Rp.100 Ribu. Tapi tentu saja ada perbedaan Fasilitas. Yang Lima puluh ribu cukup dikamar mandi,yang seratus ribu dikamar sel anak-anak.

Dihalaman lain Dalam buku ini,Baharmi juga mengungkapkan betapa didalam Penjara berjudi bisa dilakukan dengan aman asal saja oknum petugas itu mendapat jatah dari Bandar dadu. Sementara untuk bisa buka praktik judi dadu si Bandar harus minta ijin kepada pejabat Rutan dan bayaran sebesar satu juta. Selain itu harus membayar Upeti kepada para petugas lain yang datang keliling.

Bukan Judi Saja, NARKOBA juga beredar bebas didalam penjara bahkan seorang Napi bisa menjalankan  Bisnis narkobanya dari dalam penjara.

Prof.Dr.H. Sam Abede Pareno,MM yang juga ikut memberikan pengantar dalam buku ini mengatakan : Kegelisahan baharmi adalah kegelisahan wartawan, karena puluhan tahun dia menggeluti jurnalistik. Nalurinya sebagai wartawan telah menggelitiknya untuk menulis buku ini.Buku ini tidak memuat penyiksaan fisik sebagaimana yang terjadi di Guantanamo ataupun Siberia. Buku ini juga tidak  mengharu biru seperti karya Pramoedya ananta toer. Namun buku ini membedah kebobrokan ditempat yang telah berganti nama menjadi “Lembaga Permasyarakatan” itu. Sebagai Wartawan tentu penulisan  buku ini bersifat factual yang sedikitpun tak boleh dicampuri fitnah,lebih – lebih hanya isapan jempol. Bagi Pemerintah, Buku ini bisa dijadikan Refrensi dalam memperbaiki pengelolaan LP, Rutan, Tahanan Kepolisian maupun kejaksaan, serta pembinaan Narapidana.

Demikianlah sekilas tentang Buku ini, Buku ini pantas untuk kita baca dan miliki agar kita lebih tahu betapa kejam nya kehidupan didalam penjara. Semoga menjadi Pelajaran bagi kita. Inilah pesan sang penulis.

SEDIKIT TENTANG PENULIS

BAHARMI adalah seorang Wartawan senior di beberapa Media cetak di Surabaya seperti Surabaya Minggu, Suara Indonesia dan terakhir di Tabloid Nyata sebagai Redaktur sebelum beliau ditahan sebagai pecandu NARKOBA.Beliau lahir di Uthan-sumbawa-NTB Tahun 1958. Menyelesaikan Pendidikan Formalnya di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr.Soetomo Surabaya Tahun 1966.

11 Balasan ke NAPI 973 HARI (MENGUAK KEHIDUPAN DIBALIK PENJARA)

  1. rasputin dukun berkata:

    link dong blog kami, blog ini sudah dilink diblog kami..trims

  2. Mantap, saya bentar lagi mudahan tuntas bukunya, saya mantan wartawan, yang juga pernah terpenjara. Bagi saya Penjara hanya untuk orang miskin

  3. ihinsolihin berkata:

    kirimkan buat kita bang usep sebagai refrensi…

  4. choepidz berkata:

    bener bgt apa yg ditulis diats.. itu smua jg saya alami skr.. sampai dng komentar ini saya posting, saya msh di dlm Rutan Klas I Sby..br menjalani 1 th dr 4.2th masa hukuman (patang blek rong centung istilah dsini)
    andai ada fas. upLoad gmb, pst sdh saya kirimi foto kond C17 (karantina) yg bener2 menyedihkan.. dsini smua ada tarifnya. mulai yg terkecil, 10rb/per mlm (utk bs skedar tidur diluar karantina) sampai yg seharga jutaan (tnp lwt proses karantina)

  5. adeseruntulan berkata:

    this is reall..
    Saiia sedang mengalamainya
    saat ini..

  6. Pencari Keadilan berkata:

    Diadili Tanpa Barang Bukti
    DIVONIS 10 TAHUN
    EDIH MENCARI KEADILAN

    Edih Kusnadi,warga serpong Tangerang yang dituduh menjadi bandar narkoba,disiksa polisi,dipaksa mengaku lalu dijebloskan kepenjara.
    Semua itu dilakukan penegak hukum tanpa ada barang bukti dari tersangka Edih. Sialnya lagi fakta-fakta hukum yang diajukan Edih tak digubris dan hakim memberinya vonis 10 tahun penjara. Memang lebih ringan dari tuntutan jaksa yang 13 tahun,tapi Edih tetap tidak terima karena merasa tidak bersalah. Dia mengajukan banding namun dikuatkan oleh putusan Pengadilan Tinggi DKI mengajukan kasasi namun ditolak, Ia mendekam di Rutan Cipinang. Ditemui di Rutan Edih yang sangat menderita itu menyampaikan kronologi kasusnya. Dia menganggap kasusnya itu direkayasa oleh polisi “SAYA MOHON BANTUAN AHLI-AHLI HUKUM UNTUK MEMBANTU MEMBONGKAR REKAYASA KASUS INI” katanya. Sedihmya lagi, dan Edih tidak habis pikir mengapa hakim menjatuhkan vonis 10 tahun atas keterangan satu orang saksi. Padahal dia dituduh mau terima narkoba,ditangkap tanpa barang bukti. Saksi tersebut adalah iswadi yang ditangkap tangan membawa narkoba.
    Kasus ini bermula ketika Edih ditangkap di jalan Gajah Mada jakarta pusat,pada 14 mei 2011 “saya dituduh mau terima narkoba dari iswadi,tapi saya ketemu iswadi dipolda. Tidak ada barang bukti narkoba disaya maupun dikendaraan saya tetapi dibawa kepolda” kata Edih.
    Sebelumnya polisi sudah menangkap dua orang Iswadi Chandra alias kiting dan Kurniawan alias buluk. Ditemukan barang bukti sabu 54 gram yang sudah dicampur tawas, dia mendapatkannya dari pulo gadung. Saya hanya mengenal Iswadi dan tidak kenal dengan Kurniawan katanya. Edih menduga dia ditangkap lantaran dijebak oleh Iswadi. Saat polisi menangkap Iswadi dan Kurniawan kebetulan Edih menghubungi Iswadi,tapi tidak diangkat beberapa jam kemudian baru Iswadi yang menghubungi saya terus untuk ketemu,karena mau kekota saya janjian saja ketemu sekalian untuk membicarakan pekerjaan asuransi. Saya bekerja diperusahaan asuransi, ujar dia.
    “pada saat setelah penangkapan,sebelum dites urine, saya dikasih makan dan minum kopi 2 kali bersama kurniawan. Hasilnya positif tapi samar samar. Saya menduga itu direkayasa polisi memasukan amphetamine kedalam minuman saya. mereka kesal karena dinilai saya tidak kooferatif. Kata Edih.
    Edih mengatakan ia mempunyai hasil rontgen dan surat dokter dari poliklinik Bhayangkara yang menyatakan bahwa lengannya patah.
    Seluruh isi vonis hakim pengadilan Negeri Jakarta Timur itu dianggapnya tak masuk akal. AMAR PUTUSAN “MENYATAKAN TERDAKWA EDIH SECARA SAH DAN MEYAKINKAN BERSALAH TANPA HAK ATAU MELAWAN HUKUM MENERIMA NARKOTIKA SEBANYAK LEBIH DARI 5 GRAM MELALUI PEMUFAKATAN JAHAT” Ini aneh sekali, saya menyentuh barang itu saja tidak,apalagi menerimanya. Barang bukti dari saya sebuah ponsel, tidak ada sms atau pembicaraan tentang narkoba didalamnya. Ini sungguh tidak adil, kata Edih.
    Sementara dalam pertimbangannya majelis menyatakan: MENIMBANG BAHWA WALAUPUN PADA SAAT TERDAKWA DITANGKAP,TERDAKWA BELUM MENERIMA SABU YANG DIPESANNYA TERSEBUT, MENURUT HEMAT MAJELIS HAL ITU DIKARENAKAN TERDAKWA KEBURU DITANGKAP OLEH PETUGAS. DAN WALAUPUN TERDAKWA MEMBANTAH BAHWA DIRINYA TIDAK PERNAH MEMESAN SABU PADA ISWADI MAUPUN RIKI,NAMUN BERDASARKAN BERDASARKAN HASIL PEMERIKSAAN URINE NO B/131/V/2011/DOKPOL YANG DIBUAT DAN DITANDATANGANI OLEH dr. BAYU DWI SISWANTO TERNYATA URINE TERDAKWA POSITIF MENGANDUNG AMPHETAMINE”. Sedangkan terdakwa tidak pernah mengajukan dari pihak yang berkompeten.
    Saya dites urine 22 jam setelah ditangkap, sempat dikasih makan dan minum kopi 2 kali, saya menduga mereka mencampurkan amphetamine kedalam kopi saya. Bagi saya tidak masuk akal ada benda itu dalam urine saya karena saya tidak menkomsumsi narkoba. Kata Edih lagi. Dia cuma berharap para hakim bertindak adil dan mendengarkan keluhannya dan membebaskannya.

    “Demi Intervensi Berdasarkan Kedudukan Yang Berada” By @edih_one has been chirpified! http://t.co/AFZsXw5GLc

  7. buy levitra berkata:

    Hello, I enjoy reading all of your article. I wanted to
    write a little comment to support you.

  8. yanti berkata:

    i read your paper, all of your stories are true.

  9. eka berkata:

    dan ini pun sedang teman saya alami.. tadinya cuma dijadikan saksi akhirnya jadi tersangka tanpa adanya barang bukti. tidak hanya sampai disitu haknya sebagai tahanan juga tidak sama, karena dia orang lugu dan tidak punya uang diperlakukan sesukanya.. karena tidak mampu bayar yang dituntut oleh palkam dia sering dipukuli.. para petugas jaga pun seolah tutup mata. makan dua kali sehari yang dan nasi untuk makan kucing pun masih lebih bayak dari yang dia makan. tidak jarang dia minum air kran karna tidak punya uang untuk membeli air mineral..

  10. rivela berkata:

    Benar apa yg sudah ceritakan semuanya tentang kehidupan didalam penjara khususnya di rutan cipinang jakarta.
    semua tahanan disini hanya dijadikan lahan untuk pendapatan oleh semua petugas disini.. dari mulai karutan,kpr,karupam sampai petugas paste atau sipir.
    UANG,UANG DAN UANG…
    semua bisa didapat asal ada uang.. dari mulai kebebasan menggunakan hp , berjudi , membeli dan menggunakan narkoba bahkan membawa perempuan ke dalam “bilik mesra” semua tersedia buat mereka yg punya uang.., semua jadi HALAL jika punya uang dan semua bentuk kebebasan bisa didapat disini dengan UANG ALIAS DUIT.
    penjara adalah SURGA dan tempat paling AMAN buat para pedagang dan pengguna narkoba tanpa harus takut ditangkap.. selama bisa kordinasi dgn petugas penjara.. yg penting “86” T.S.T.
    penjara adalah tempat paling “basah” buat para petugas disini.. segala bentuk pungutan ada disini.. mulai dari pungutan uang harian, mingguan sampai bulanan , semua menjadi kewajiban bagi semua warga binaan agar dapat kebebasan yg diinginkan. di rutan cipinang ada pungutan “wajib” setiap hari sabtu. semua wajib setor.. dari mulai kepala lapak, kepala kamar, formen, sampai para pengedar narkoba.. , dan itu semua harus di setor untuk KPR (CAMP), RUPAM, PASTE . biasanya ada tamping yg ditugaskan untuk datang meminta uang tersebut.
    itulah yg terjadi disini.. di rutan cipinang klas 1 jakarta dan begitupun yg terjadi di lapas narkotik maupun kriminal.
    begitu hebatnya “kerajaan” ini sehingga ini menjadi “surga” bagi petugas maupun para penghuni tanpa bisa dilihat dari luar apalagi tersentuh krn mereka sangat pintar untuk menutupi semua…, intinya penjara adalah tempat yg penuh konspirasi tingkat tinggi dimana semua yg hitam bisa menjadi putih dan semua yang putih bisa menjadi hitam…, tapi jangan berharap bisa enak di penjara kalau tanpa uang…. , tanpa uang anda akan merasa tersiksa dan merasakan penjara yang sebenarnya tanpa ada rasa kemanusiawian…, tanpa uang anda akan terhina.., seekor kucingpun masih lebih dihargai oleh petugas daripada anda yang tidak mempunyai uang.., jadi klo anda mau masuk penjara…. siapkanlah UANG sebanyak mgkn.. krn anda akan berhadapan dgn para MONSTER UANG yang akan menghisap uang anda sampai habis dan kemudian anda akan dioper (dipindah ke penjara lain) klo uang anda sdh habis krn fasilitas yang sdh anda dapatkan sebelumnya (hp , narkoba) itu adalah kesalahan anda yg mereka simpan selama ini dan akan ditindak pada saat anda sudah tidak ada uang lagi untuk “86”.
    inilah yang terjadi dan yang penulis alami sekarang pada saat tulisan ini dibuat.
    entah sampai kapan hal ini bisa berakhir……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s